Komisi I DPR Minta TNI Tindak Tegas Prajurit yang Pukul Driver Ojol di Pontianak

Jakarta, IDM - Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal atau yang akrab disapa Deng Ical, merespons terkait kasus pemukulan yang dilakukan seorang anggota TNI Letda FA terhadap driver ojek online Teguh Sukma Akbar di Pontianak, Kalimantan Barat. Dia meminta TNI untuk menindak tegas oknum anggota yang melakukan kekerasan.
Peristiwa yang viral di media sosial itu menimbulkan gelombang reaksi publik, lantaran memperlihatkan tindakan kekerasan oknum prajurit terhadap masyarakat sipil yang tengah bekerja. Deng Ical menilai, peristiwa tersebut sangat disayangkan dan mencederai kepercayaan publik terhadap institusi TNI.
“Setiap prajurit TNI seharusnya bisa mengendalikan diri, apalagi saat berada di jalan atau ruang publik. Mereka adalah bagian dari institusi pertahanan negara yang seharusnya memberi contoh kedisiplinan dan ketenangan, bukan justru menunjukkan perilaku kasar,” ungkap Deng Ical di Jakarta, Senin (22/9).
Baca Juga: Prabowo Komitmen Jaga Supremasi Sipil, Komisi I DPR: Presiden Ingin Perkuat Demokrasi Indonesia
Sebagai anggota Komisi I yang membidangi pertahanan, ia menegaskan TNI harus menindak tegas oknum prajurit yang melakukan kekerasan tersebut.
Menurutnya, penegakan disiplin dan pemberian sanksi yang jelas merupakan bentuk tanggung jawab institusi sekaligus cara untuk menjaga marwah TNI di mata rakyat.
“Sanksi yang tegas perlu dijatuhkan agar menjadi efek jera, tidak hanya bagi pelaku, tetapi juga sebagai pelajaran bagi seluruh prajurit lainnya. Jika dibiarkan, tindakan ini berpotensi merusak citra TNI yang selama ini dipercaya rakyat,” tegasnya.
Baca Juga: Komisi I: Fungsi TNI Bukan Cuma Garda Terdepan Pertahanan tetapi Penjaga Ketertiban
Deng Ical juga menekankan TNI memiliki kewajiban moral untuk terus menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat. Prajurit, kata Deng Ical, harus selalu mengedepankan sikap profesional, berdisiplin, dan mampu menahan emosi dalam kondisi apa pun.
“Rakyat adalah mitra strategis TNI. Prajurit tidak boleh memandang enteng hubungan ini. Kekerasan terhadap rakyat hanya akan menciptakan jarak dan merusak kepercayaan publik. Oleh karena itu, saya mendorong agar kasus ini ditangani secara serius, transparan, dan adil,” ucapnya.
Ia berharap peristiwa di Pontianak ini bisa menjadi momentum bagi TNI untuk memperkuat pembinaan mental dan kedisiplinan prajurit.
Dengan begitu, setiap anggota TNI benar-benar hadir sebagai pengayom rakyat dan tidak lagi terlibat dalam praktik kekerasan di lapangan.
Baca Juga: Komisi I Soroti Dugaan Penyelundupan Senjata OPM dari Australia
"Namun, prajurit TNI juga manusia yang butuh dimaafkan bila salah. Tapi prajurit adalah simbol negara yang punya tanggung jawab lebih berat dari WNI lainnya, sama dengan pejabat publik. Maka ketahanan personal harus lebih kuat," tandasnya.
Sebelumnya, driver ojol Teguh menjadi korban pemukulan yang dilakukan oknum anggota TNI. Korban mengalami patah hidung dan luka benjol di bagian mata. Peristiwa ini terjadi di Jalan Panglima AIM, Kecamatan Pontianak Timur, Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Sabtu (20/9) sore.
Pemukulan terjadi ketika Teguh hendak mengantar pesanan. Ia berada di belakang sebuah mobil yang dikemudikan anggota TNI. Ketika mobil hendak berbalik arah, Teguh membunyikan klakson sebagai tanda. Setelah diklakson, pengemudi mobil justru turun dan langsung memukul wajah Teguh menggunakan siku. (Ykb)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































