Iran Beri Penjelasan Terkait Walk Out dari Perundingan dengan AS

Jakarta, IDM – Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf, yang memimpin tim negosiasi Iran, memberikan penjelasan terkait kronologi dan alasan mereka berbondong-bondong meninggalkan tempat perundingan dengan Amerika Serikat (AS) pada Minggu lalu.
Sedari awal, kata Qalibaf, pihaknya hanya ingin berpartisipasi dalam negosiasi dengan para mediator yakni Qatar dan Pakistan, bukan dalam diskusi tatap muka dengan AS. Namun, para mediator bersikeras bahwa pertemuan itu menandai kemajuan negosiasi.
"Di tengah pembicaraan, saya menyadari bahwa [Presiden AS] Trump telah mengeluarkan ancaman terhadap presiden, tim negosiasi, dan serangan terhadap wilayah kami," kata Qalibaf kepada Tasnim News Agency, melansir AA, Selasa (23/6).
Baca Juga: Lawan Cina, AS Tempatkan Sistem Rudal Typhon di Pangkalan Jepang
Kemudian, ia mengangkat masalah ini dengan Wakil Presiden AS JD Vance, yang turut hadir dalam perundingan. Sebab, pernyataan Trump itu melanggar Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh kedua belah pihak.
"Saya memberi tahu Vance bahwa kami di sini untuk bernegosiasi dan bahwa klausul pertama dari kesepahaman yang ditandatangani melarang ancaman dan penggunaan kekerasan. Tetapi presiden Anda mengeluarkan ancaman hari ini," katanya.
"Anda harus tahu bahwa kami tidak pernah bernegosiasi di bawah ancaman atau kekerasan," tegasnya.
Baca Juga: Singgung Isu Nuklir saat Berunding dengan AS, Ini Kata Iran
Setelah menekankan hal tersebut, Qalibaf mengatakan bahwa delegasi Iran kemudian mengakhiri pertemuan. Menurutnya, pihak Washington meminta pertemuan dilanjut tetapi Teheran menolak.
"Pihak AS bersikeras untuk mengadakan pertemuan lain dengan kehadiran mediator, yang kami tolak," ujarnya.
Lalu, mediator Qatar dan Pakistan menemui delegasi Iran. Kepada para mediator, ungkap Qalibaf, Iran tetap bersedia untuk proses negosiasi tetapi tidak secara langsung berbicara dengan AS.
Baca Juga: Presiden Iran: Komitmen Implementasi Kunci Keberhasilan Negosiasi dengan AS
Ia mengatakan, diskusi berlangsung sekitar 80 menit dan diakhiri dengan pernyataan yang dikeluarkan oleh kedua mediator tersebut.
Adapun, saat negosiasi berlangsung, Trump yang tidak turut hadir, mendesak Iran untuk "menghentikan proksi mereka yang dibayar mahal di Lebanon dari menimbulkan masalah," atau AS akan menyerang "dengan sangat keras lagi."
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































