PARLEMEN

Gempa di Poso, Pemerintah Wajib Prioritaskan Kebutuhan Pokok Pengungsi

Anggota Komisi VIII DPR RI Mahdalena
Anggota Komisi VIII DPR RI, Mahdalena, mendesak pemerintah bergerak cepat memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi usai gempa di Poso. (Foto: Dok. DPR RI)

Jakarta, IDM – Gempa bumi berkekuatan 6,0 magnitudo mengguncang wilayah laut Poso, Sulawesi Tengah, Minggu (17/8) pukul 05.38 WIB.

Pusat gempa berada 18 kilometer barat laut Poso dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa mengakibatkan satu orang meninggal dunia, 14 orang luka-luka, dan sebanyak 184 kepala keluarga atau 433 jiwa terpaksa mengungsi.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Mahdalena, mendesak pemerintah agar bergerak cepat memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.

Baca Juga: Komisi I DPR RI Soroti Pentingnya Infrastruktur Penunjang Alutsista untuk Ketahanan Pangan Nasional

Ia menegaskan pemenuhan kebutuhan pokok tidak hanya menyangkut logistik, tetapi juga keselamatan, kesehatan, dan pemulihan fisik maupun mental korban.

“Kami turut berduka atas musibah gempa di Poso. Yang terpenting saat ini adalah memastikan para pengungsi mendapatkan perlindungan layak. Mereka kehilangan tempat tinggal dan berada dalam kondisi terbatas. Negara harus hadir dengan memberikan jaminan kebutuhan pokok secara cepat, tepat, dan manusiawi,” ujar Mahdalena di Jakarta, Rabu (20/8).

Mahdalena menerangkan kebutuhan mendesak meliputi makanan dan minuman bergizi, air bersih, pakaian layak, perlengkapan khusus perempuan dan anak, serta tempat tinggal sementara yang aman.

“Bukan hanya ketersediaan, tapi juga kualitas. Jangan sampai anak-anak, ibu hamil, dan lansia mengalami gangguan kesehatan karena kebutuhan gizinya tidak terpenuhi,” ucap legislator asal Nusa Tenggara Barat itu.

Baca Juga: Komisi I DPR RI Desak Kasus Kematian Prada Lucky Diusut Tuntas dan Transparan

Mahdalena juga menegaskan kelompok rentan harus menjadi prioritas utama. “Anak-anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas perlu perhatian khusus. Mereka lebih rentan terhadap dampak bencana, baik fisik maupun psikis,” katanya.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya penyediaan alas tidur, selimut, serta fasilitas sanitasi layak di lokasi pengungsian. Menurutnya, pengungsian bukan hanya tempat berlindung, tetapi ruang pemulihan sementara yang harus memenuhi standar kemanusiaan.

Mahdalena juga meminta pemerintah menyediakan layanan pendampingan psikososial bagi pengungsi, terutama anak-anak dan perempuan.

Baca Juga: Tambah 6 Kodam Baru, Komisi I Minta TNI Semakin Responsif Persoalan Keamanan

“Trauma pasca-gempa adalah persoalan serius. Pendampingan psikologis sangat penting agar mereka bisa pulih dari rasa takut dan cemas,” tegasnya.

Ia mengimbau masyarakat terdampak untuk tetap tenang, mengikuti arahan petugas, dan waspada terhadap potensi gempa susulan.

“Tugas utama pemerintah saat ini adalah memastikan kebutuhan dasar pengungsi tidak terbengkalai. Ini soal kemanusiaan, negara tidak boleh abai,” pungkas Mahdalena. (Ykb)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.