INTERNASIONAL

Daftar 6 Negara yang Kompak Tolak Permintaan Trump Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Peta Selat Hormuz.
Peta Selat Hormuz. (Foto: Dok. Wikimedia Commons)

Jakarta, IDM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kini sedang "gigit jari". Rencananya membentuk koalisi militer internasional untuk mengamankan Selat Hormuz justru mendapat respons dingin dari para sekutu dekatnya. Hingga saat ini, sedikitnya ada enam negara besar yang secara terang-terangan menolak atau masih "jual mahal" terhadap permintaan Washington.

Ketegangan di Selat Hormuz memuncak setelah Iran secara efektif memblokade jalur laut sempit tersebut. Trump pun langsung "menodong" negara-negara sekutu melalui unggahan di platform Truth Social dan wawancara dengan Financial Times agar mereka ikut pasang badan mengawal kapal tanker minyak. Namun, alih-alih memberikan dukungan penuh, para sekutu justru memilih jalan masing-masing.

Baca Juga: Konflik dengan AS-Israel Terus Berkecamuk, Iran Tangkap 500 Orang Terduga Spionase

Berikut adalah daftar negara yang menolak "titah" Trump:

1. Prancis: Fokus di Mediterania

Prancis secara tegas menolak menggeser kekuatan tempurnya ke wilayah konflik Iran-Israel. Melalui unggahan di platform X, Kementerian Luar Negeri Prancis menekankan militer mereka punya prioritas lain. Prancis memastikan kapal induk beserta gugus tempurnya tetap berada di Mediterania Timur, bukan di Selat Hormuz.

2. Jepang: Pilih Jalur Mandiri

Jepang menjadi salah satu yang paling keras menolak disetir oleh Trump. Perdana Menteri Sanae Takaichi menegaskan bahwa Tokyo masih mengkaji langkah mandiri sesuai hukum mereka.

"Jepang memutuskan responsnya sendiri, dan penilaian independen adalah hal yang mendasar," lapor media lokal setempat terkait sikap tegas pemerintahnya. Takaichi juga menambahkan di depan parlemen, pemerintahnya belum membuat keputusan apa pun tentang pengiriman kapal pengawal.

3. Australia: Tegas Menolak

Negeri Kanguru juga memastikan tidak akan ada kapal perang Australia yang meluncur ke Hormuz. Menteri dalam kabinet Australia, Catherine King, menyatakan dalam wawancara dengan stasiun televisi ABC, negaranya tidak akan mengirim kapal meski paham vitalnya jalur tersebut.

"Kami tidak akan mengirim kapal ke Selat Hormuz. Kami tahu betapa pentingnya hal itu, tetapi itu bukan sesuatu yang diminta atau yang kami bantu," tegas King.

4. Cina: Utamakan Stabilitas Energi

Cina sebagai importir minyak terbesar justru memilih jalur diplomasi total. Melalui Kedutaan Besarnya, Beijing menyerukan agar konflik antara AS-Israel dan Iran segera dihentikan demi kepentingan yang lebih besar. Cina menekankan bahwa "semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan pasokan energi yang stabil dan tanpa hambatan," tanpa memberikan komitmen militer apa pun meskipun laporan dari Reuters menyebut posisi mereka sangat krusial.

5. Inggris: 'Wait and See'

Perdana Menteri Keir Starmer memang sudah membahas pentingnya membuka Selat Hormuz dengan Trump melalui sambungan telepon. Namun, laporan dari Downing Street (Kantor PM Inggris) menunjukkan London belum mengambil langkah militer secara resmi. Starmer justru terpantau lebih memilih melakukan pembicaraan lanjutan dengan Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, untuk mencari solusi diplomatik.

6. Korsel: Masih Mikir-mikir

Sebagai sekutu dekat AS di Asia, Korea Selatan juga tidak langsung mengiyakan permintaan Trump. Melansir laporan AFP, Kantor Kepresidenan Seoul menyatakan akan meninjau permintaan tersebut secara hati-hati. Mereka memilih untuk terus "berkomunikasi secara intensif" dengan pihak AS tanpa memberikan kepastian pengiriman pasukan militer dalam waktu dekat.

Baca Juga: TNI Gelar Latihan Gabungan dengan Angkatan Bersenjata Kongo

Kenapa Selat Hormuz Begitu Penting?

Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang memisahkan Iran dan Oman. Jalur ini bukan sembarang perairan, karena sekitar 20 persen (seperlima) pasokan minyak global harus lewat di sini setiap harinya.

Jika jalur ini tertutup, rantai pasok energi dunia akan lumpuh. Itulah mengapa Trump sangat bernafsu mengajak sekutu "patungan" kekuatan militer di sana. Namun, para sekutu nampaknya lebih takut terseret dalam perang terbuka dengan Iran daripada harus menuruti kemauan transaksional Trump. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.