INTERNASIONAL

Cina dianggap Sebagai Ancaman di LCS: Survei

Kapal Penjaga Pantai Cina.
Kapal Penjaga Pantai Cina. (Foto: Dok. China Military)

Jakarta, IDM – Mayoritas responden survei Litbang Kompas menyatakan bahwa kehadiran Cina di Laut Cina Selatan (LCS) merupakan sebuah ancaman, bukan hanya untuk Indonesia tetapi juga negara-negara di sekitarnya.

Survei itu menunjukkan, sebanyak 76,6% responden menganggap meningkatnya kehadiran Cina di LCS merupakan ancaman. Gen Z menyumbang 18,9% jawaban, Gen X 23,5% dan Baby Boomer 6%.

Baca Juga: Pemeriksaan Kesehatan Gratis, Bakti TNI KONGA XXIII-S untuk Masyarakat Lokal

Sementara, sebanyak 15,4% yang mayoritas merupakan Gen Y, menilai kehadiran Cina justru merupakan keuntungan bagi Indonesia. Sekitar 8% lainnya mengaku tidak tahu.

"Kalau kita ingin tahu siapa yang melihat bahwa kehadiran Cina itu menjadi keuntungan bagi Indonesia, Gen Y itu menganggap kehadiran Cina menjadi keuntungan," papar peneliti Litbang Kompas Dimas Okto dalam webinar 'Menjaga Kedaulatan dan Mencari Kawan di Laut Cina Selatan' yang digelar Indonesia Strategic & Defence Studies (ISDS), Kamis (17/7).

Ia menuturkan, hal ini nampaknya karena Gen Y, sebagai generasi paling muda, tidak memiliki pengetahuan maupun melihat konflik di kawasan termasuk konfrontasi Cina. Sehingga, persepsi mereka terhadap Cina lebih lunak dibanding Gen Baby Boomer dan Gen Z.

"Mungkin kalau Gen Baby Boomer masing-masing melihat adanya perang-perang sebelumnya. Kalau generasi yang baru, paling muda ini, perang itu jauh dari mereka. Paling ada juga Rusia, dan tidak di sekitar ASEAN. Sehingga, mereka persepsi lebih lunak terhadap adanya kehadiran Cina," ujarnya.

Baca Juga: Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei Siap Balas Serangan yang Lebih Besar ke Israel

Dalam meningkatkan keamanan kedaulatan Indonesia, mayoritas responden (21,4%) menyoroti pentingnya kemitraan dengan negara-negara ASEAN dalam menghadapi isu LCS. Diantara negara anggota, Malaysia (52,3%) dianggap sebagai negara yang paling tepat bagi Indonesia untuk bekerja sama menyelesaikan permasalahan tersebut.

Adapun, survei dilakukan dengan metode penelitian jajak pendapat melalui telepon dengan teknik pengambilan simple random sampling dari database Litbang Kompas. Total responden sebanyak 321 orang dari Medan, DKI Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Makassar. (bp)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.