Cegah Perang Dunia III, SBY Desak PBB Gelar Sidang Majelis Umum Darurat

Jakarta, IDM – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti situasi geopolitik dunia yang kian memanas belakangan ini. Khawatir akan pecahnya Perang Dunia Ketiga, SBY mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) segera mengambil langkah konkret dengan menggelar sidang darurat.
Lewat cuitan di akun X pribadinya, SBY mengaku cemas memantau dinamika global yang menurutnya makin menyempitkan ruang untuk perdamaian.
"Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly)," tulis akun @SBYudhoyono, dikutip Senin (19/1).
Baca Juga: AS Diskusi dengan NATO Terkait Greenland
SBY menilai agenda sidang darurat tersebut harus spesifik, yakni merumuskan langkah nyata mencegah krisis dunia dalam skala besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia baru.
Meski menyadari posisi PBB saat ini kerap dinilai tidak berdaya, SBY menekankan agar lembaga dunia tersebut tidak pasif. Menurutnya, PBB adalah satu-satunya wadah yang masih bisa diharapkan untuk mengumpulkan para pemimpin dunia.
"Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing," tegas Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat tersebut.
Samakan Situasi dengan Jelang PD I dan PD II
Analisis SBY bukan tanpa dasar. Ia melihat situasi dunia saat ini memiliki banyak kesamaan (kemiripan) dengan masa menjelang Perang Dunia I (1914) dan Perang Dunia II (1939). Tanda-tandanya dinilai sudah sangat nyata.
Baca Juga: Dewan Perdamaian Gaza Resmi Dibentuk, Fokus Rekonstruksi Pascaperang
"Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas," jelas SBY.
SBY mengingatkan, jika perang nuklir pecah, dampaknya akan memusnahkan peradaban dengan potensi korban jiwa mencapai lebih dari 5 miliar manusia. Oleh karena itu, ia mengajak dunia internasional untuk tidak diam dan membiarkan "orang-orang jahat" menghancurkan dunia.
"Sesempit apa pun, masih ada waktu dan cara untuk menyelamatkan bumi dan dunia kita," pungkasnya. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































