Butuh Waktu 30 Tahun untuk Netralisir Gaza dari Ranjau

Jakarta, IDM – Organisasi Nirlaba Internasional Humanity & Inclusion memperkirakan bahwa perlu waktu sekitar 20 hingga 30 tahun untuk membersihkan Gaza dari seluruh ranjau atau bom yang belum meledak.
Melansir Reuters, Jumat (24/10), Nick Orr selaku pakar Penjinak Bahan Peledak di Humanity & Inclusion, mengatakan bahwa hambatan terbesar dalam membersihkan Gaza dari ranjau adalah tumpukan jutaan ton puing-puing akibat konflik yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023.
"Jika Anda ingin sepenuhnya bersih, itu tidak akan pernah terjadi, itu ada di bawah tanah. Kita akan menemukannya saat generasi mendatang," ujarnya, seraya membandingkan dengan kota-kota di Inggris setelah Perang Dunia II.
Baca Juga: Menlu Sugiono: Presiden Prabowo dan Presiden Afsel Bahas Kerja Sama Pertahanan hingga Pendidikan
Ia menggambarkan Gaza sebagai ladang ranjau yang mengerikan dan belum terpetakan. Meskipun gencatan senjata Israel-Hamas berdasarkan proposal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjanjikan, perlu upaya besar untuk menormalkan Gaza.
"Pembersihan permukaan, itu sesuatu yang bisa dicapai dalam satu generasi, saya rasa 20 hingga 30 tahun. Ini akan menjadi langkah kecil untuk menyelesaikan masalah yang sangat besar," ujarnya.
Orr, yang beberapa kali mengunjungi Gaza selama konflik, adalah bagian dari tim beranggotakan tujuh orang dalam organisasinya yang akan mulai mengidentifikasi sisa-sisa perang di infrastruktur krusial seperti rumah sakit dan toko roti mulai minggu depan.
Baca Juga: Satgas CIMIC Unit XXXI-O/UNIFIL Dukung Donasi Pangan di Lebanon Selatan
Namun, Humanity & Inclusion dan kelompok sejenis belum mendapatkan izin penuh dari Israel untuk mulai memindahkan, menghancurkan persenjataan maupun mengerahkan peralatan yang dibutuhkan.
Orr menuturkan, pihaknya sedang meminta izin pada otoritas Israel untuk mengerahkan alat pemusnah bom tanpa harus meledakannya, guna meredakan kekhawatiran bom itu akan digunakan kembali bom oleh Hamas.
Ia pun menyerukan dukungan terhadap pasukan sementara seperti yang diusulkan dalam 20 poin proposal damai Trump. "Jika ingin ada masa depan di Gaza, perlu ada pasukan keamanan yang memungkinkan para pekerja kemanusiaan bekerja," pungkasnya. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































