AS Tidak Akan Mengembalikan Puing-Puing Balon Pengintai ke Cina

Jakarta, IDM – Amerika Serikat (AS) tidak berencana untuk mengembalikan puing-puing balon pengintai yang telah ditembak jatuh karena akan diteliti lebih lanjut oleh para teknisi. Sementara itu, Cina menganggap AS bertindak berlebihan dan meminta balon udaranya dikembalikan.
Dilansir AFP, Selasa (7/2), dalam sebuah konferensi pers juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS John Kirby mengatakan bahwa “Saya tidak ada niat atau rencana untuk mengembalikannya (puing-puing balon udara).”
Menurutnya, saat ini Angkatan Laut AS sedang mencari beberapa sisa puing-puing yang tersebar di area seluas 1500 meter. Balon itu sendiri tingginya mencapai 60 meter dan membawa muatan seberat beberapa ribu kilogram yang kira-kira seukuran pesawat domestik.
Menanggapi tindakan AS, Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan bahwa Pemerintahan Biden seharusnya menyikapi insiden secara tenang dan professional tanpa menggunakan kekuatan. Terlebih, Cina memiliki hak untuk mendapatkan puing-puing balon udaranya kembali.
“Pesawat (balon mata-mata) itu bukan milik AS. Itu milik China. AS seharusnya menangani insiden semacam itu dengan tenang dan profesional tanpa melibatkan penggunaan kekuatan, namun mereka memutuskan untuk melakukan sebaliknya, yang merupakan reaksi berlebihan yang jelas,” ujar Ning dilansir laman Fmprc.gov.cn, Rabu (8/2).
Ning menilai AS sudah menggembor-gemborkan insiden masuknya balon udara sipil yang sama sekali tidak dibuat untuk melakukan pengintaian militer. Ia menegaskan bahwa balon udara ini menyimpang dari jalur yang ditetapkan karena kemampuan self-steering yang terbatas. Pemerintah Cina pun akan mengambil langkah tegas untuk mempertahankan hak-haknya.
Baca: AS Tembak Jatuh Balon Pengintai Cina
“Pesawat nirawak Cina itu bersifat sipil. Masuknya yang tidak disengaja ke wilayah udara AS sama sekali tidak terduga dan disebabkan oleh force majeure. Itu tidak menimbulkan ancaman bagi siapa pun atau keamanan nasional AS. Cina akan bertindak tegas mempertahankan hak dan kepentingannya yang sah,” tegasnya. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































