AS Serang Iran Enam Malam Beruntun, 8 Orang Tewas

Jakarta, IDM – Iran mengatakan bahwa delapan warga sipil tewas dan 20 lainnya terluka akibat serangan Amerika Serikat (AS), yang telah dilakukan selama enam malam berturut-turut.
Melansir media Pemerintah Iran Irna.ir, Jumat (17/7), beberapa wilayah menjadi target bombardir termasuk Qeshm, Iranshahr, Bandar Abbas, dan Bandar Khamir. Lalu lintas pun terganggu karena beberapa jembatan rusak akibat serangan AS.
Baca Juga: Lebanon-Israel Berunding, akan Bentuk Zona Percontohan
Menara kontrol maritim Pelabuhan Shahid Kalantari di Chabahar juga hancur setelah menjadi sasaran. Namun, dermaga dan infrastruktur operasional pelabuhan tidak mengalami kerusakan serta tidak ada korban jiwa.
Sebelumnya, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengungkapkan telah melancarkan serangan skala besar terbaru ke Iran, yang menargetkan situs pengawasan pantai dan pertahanan udara, infrastruktur logistik militer, dan kemampuan maritim.
Baca Juga: Korsel, AS dan Jepang Sepakat Perkuat Kerja Sama Pertahanan
"CENTCOM terus melemahkan kemampuan militer Iran dan meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan baru-baru ini terhadap pelayaran komersial," katanya melansir platform X @CENTCOM.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































