AS Kembali Serang Iran, Ini Alasannya

Jakarta, IDM – Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan udara terhadap Iran meskipun Presiden Donald Trump telah berjanji untuk deeskalasi selama tujuh hari prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran terdahulu, Ali Khamenei.
Menurut Pasukan Komando Pusat AS (CENTCOM), hal itu dilakukan merespons serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Kapal itu di antaranya M/T Al Rekayyat berbendera Kepulauan Marshall, M/T Wedyan berbendera Arab Saudi, dan M/T Cyprus Prosperity berbendera Liberia.
"Agresi yang tidak beralasan oleh pasukan Iran merupakan pelanggaran gencatan senjata yang jelas dan berbahaya serta merusak kebebasan navigasi," katanya melalui platform X @CENTCOM.
Baca Juga: Rusia-Cina Gelar Latihan Gabungan di Laut Kuning
Adapun, pecahnya eskalasi ini nampak menunjukan tantangan dalam mencapai kesepakatan komprehensif. Baik AS maupun Iran, memiliki interpretasi berbeda terhadap Nota Kesepahaman (MoU) yang disepakati keduanya.
Pada 24 Juni, Oman dan Organisasi Maritim Internasional PBB (IMO) mengumumkan koridor sementara baru di Selat Hormuz yakni melalui jalur sepanjang pantai Oman. Jalur itu dibentuk untuk kapal-kapal komersial yang terdampar di Teluk dan dibawah pengawasan AS.
Namun, militer Iran menolak rute Oman itu karena diputuskan tanpa konsultasi terlebih dahulu. Iran juga memperingatkan kapal untuk hanya menggunakan koridor maritim yang disetujui oleh Teheran.
Baca Juga: Sekjen NATO Ungkap Tiga Inisiatif Pertahanan Baru
Beberapa hari kemudian, dua kapal yang menggunakan rute Oman diserang. Lantas, AS menyerang beberapa titik di pesisir selatan Iran pada 26 dan 27 Juni. Bahrain dan Kuwait melaporkan bahwa wilayahnya menjadi target serangan balasan Iran.
Kemudian, kedua pihak berhenti saling serang dan menggelar perundingan tidak langsung, yang dimediasi Qatar pada 1 Juli. Kendati demikian, CENTCOM melaporkan bahwa tiga kapal komersial kembali diserang di Selat Hormuz.
Teheran bersikeras bahwa MoU dengan AS memberikan tanggung jawab tunggal kepada Iran untuk mengawasi dan mengelola pelayaran di selat tersebut. Sementara, AS menganggap MoU itu menyerukan Iran untuk memfasilitasi jalur pelayaran yang aman dan bebas tarif.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































