AS Gempur Iran tanpa Ampun, Komisi I DPR Desak Indonesia Pimpin Gerakan Gencatan Senjata

Jakarta, IDM – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah Washington melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap sejumlah target di wilayah Iran.
Anggota Komisi I DPR RI, Syamsu Rizal atau Deng Ical mendesak Indonesia mengambil peran lebih aktif untuk menghentikan perang melalui jalur diplomasi dan gencatan senjata.
Menurut Deng Ical, Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah meningkatnya tensi geopolitik dunia.
Sebagai negara yang sejak awal konsisten mengedepankan perdamaian dan politik luar negeri bebas aktif, Indonesia memiliki tanggung jawab moral sekaligus amanat konstitusi untuk ikut mendorong penyelesaian konflik secara damai.
Baca Juga: Komisi I DPR: Kenaikan Tukin jadi Suntikan Semangat Baru bagi Prajurit TNI
Militer AS diketahui melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran pada Rabu malam waktu Amerika atau Kamis (30/7) dini hari waktu Teheran.
Pemerintah AS menyatakan operasi tersebut merupakan respons atas serangan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania.
Deng Ical menilai eskalasi militer hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat sipil dan memperbesar ancaman terhadap stabilitas kawasan maupun dunia.
"Indonesia harus konsisten menyuarakan penghentian serangan dan mendorong semua pihak menahan diri. Tidak ada persoalan yang dapat diselesaikan melalui perang berkepanjangan. Jalan dialog dan diplomasi harus menjadi pilihan utama," kata Deng Ical.
Politikus dari Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan I itu meminta pemerintah memanfaatkan posisi strategis Indonesia di berbagai forum internasional untuk membangun dukungan global bagi terciptanya gencatan senjata.
Amanat Pembukaan UUD 1945, kata Deng Ical, menjelaskan Indonesia berkewajiban ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Baca Juga: Kapten Kapal Asal Gowa Masih Disandera, Komisi I Dorong Satu Komando Pembebasan WNI
Sehingga, pemerintah harus tampil sebagai salah satu motor penggerak penyelesaian konflik melalui diplomasi.
Selain itu, Deng Ical juga mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama negara-negara sahabat segera memfasilitasi dialog langsung antara Amerika Serikat dan Iran agar konflik tidak berkembang menjadi perang yang lebih luas.
"Indonesia bersama PBB dan negara-negara sahabat harus mengajak Amerika Serikat dan Iran duduk bersama di meja perundingan. Gencatan senjata harus segera diwujudkan agar tidak semakin banyak korban berjatuhan," ujarnya.
Anggota Komisi I DPR RI yang membidangi hubungan luar negeri dan pertahanan tersebut mengingatkan dampak perang tidak hanya dirasakan oleh negara yang terlibat langsung. Konflik berkepanjangan, kata dia, berpotensi memicu krisis kemanusiaan, mengganggu stabilitas keamanan kawasan, hingga memperbesar ketidakpastian ekonomi global.
Deng menuturkan masyarakat sipil akan menjadi pihak yang paling terdampak akibat meningkatnya korban jiwa, pengungsian massal, dan memburuknya kondisi sosial ekonomi di kawasan konflik.
"Rakyat sipil selalu menjadi pihak yang paling menderita. Selain korban jiwa, konflik ini akan memicu krisis kemanusiaan, mengganggu stabilitas kawasan, serta meningkatkan ketidakpastian global," tegasnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Belanja Alutsista, DPR Bongkar Alasan RI Borong 12 Jet Tempur Latih Italia
Deng Ical juga mengingatkan konflik terbuka antara AS dan Iran dapat berdampak langsung terhadap ekonomi dunia.
Gangguan rantai pasok internasional, melonjaknya harga energi, hingga tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia, menjadi ancaman nyata apabila eskalasi terus berlanjut.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan diplomasi sebagai satu-satunya jalan yang mampu menghentikan spiral kekerasan.
"Perang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Dunia membutuhkan perdamaian, bukan eskalasi konflik. Semua pihak harus mengedepankan diplomasi demi menjaga stabilitas dan melindungi kehidupan masyarakat sipil," pungkasnya.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































