INTERNASIONAL

3.167 WNI Minta Pulang Setelah Keluar dari Sindikat Scam Kamboja

WNI
WNI berkumpul di penampungan sementara yang dikelola oleh KBRI Phnom Penh. (Foto: Dok. Kemlu RI)

Jakarta, IDM – Pemerintah Indonesia melalui KBRI Phnom Penh mencatat bahwa sedikitnya 3.167 Warga Negara Indonesia (WNI) telah meminta fasilitasi kepulangan ke tanah air. Ribuan WNI itu merupakan korban yang berhasil keluar dari sindikat penipuan daring (online scam) di Kamboja.

Pada akhir pekan lalu, Filipina melakukan razia skala besar terhadap sindikat penipuan daring di Provinsi Svay Rieng, menyusul upaya serupa di provinsi-provinsi lain. Dampaknya, jumlah WNI yang datang ke KBRI untuk meminta pulang bertambah menjadi 3.167 orang sejak 16 Januari 2026.

Angka itu diperkirakan masih akan terus bertambah. Dari jumlah tersebut, sudah dilakukan asesmen terhadap 2100-an laporan.

Baca Juga: Presiden Prabowo Tempuh Jalur Realistis soal Gaza, Board of Peace Dinilai Paling Masuk Akal

Dengan dukungan dari Kementerian Luar Negeri serta Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, KBRI Phnom Penh terus lakukan pendataan, verifikasi data dan informasi, asesmen kasus, serta penerbitan dokumen perjalanan sementara. KBRI juga aktif berkoordinasi dengan otoritas setempat, guna dapatkan kemudahan dalam menangani kasus-kasus WNI.

Hingga 2 Februari 2026, KBRI Phnom Penh telah diterbitkan lebih dari 800 Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) bagi WNI yang tidak memilki paspor. KBRI juga telah berhasil menegosiasikan keringanan denda keimigrasian bagi hampir 800 WNI. Proses penerbitan SPLP dan negosiasi bagi WNI yang lainnya terus dilakukan oleh KBRI.

Di antara para WNI yang telah difasilitasi oleh KBRI, sejak 30 Januari 2026, terdapat 45 orang yang telah kembali ke Indonesia secara mandiri.

Sementara untuk beberapa minggu ke depan, sekitar 130 WNI telah mempersiapkan tiket kepulangan ke Indonesia, setelah difasilitasi dokumen perjalanan sementara atau keringanan denda keimigrasian. Diyakini angka ini akan terus bertambah.

Namun demikian, dikarenakan melambungnya harga tiket penerbangan komersial akibat permintaan tinggi, banyak WNI yang belum dapat memastikan tanggal kepulangan mereka. Mulai dirasakan penumpukan WNI di lokasi penampungan sementara yang dikelola oleh KBRI berkoordinasi dengan otoritas lokal.

Baca Juga: Perundingan Damai Rusia-Ukraina Kembali Digelar di Abu Dhabi

“Saat ini tempat penampungan sementara telah dihuni lebih dari 1.200 WNI. KBRI akan terus mengupayakan agar kondisi di penampungan tetap kondusif. KBRI juga akan percepat proses deportasi, agar para WNI bisa segera mengatur perjalanan kepulangan mereka," ungkap Duta Besar RI untuk Kamboja Santo Darmosumarto, melansir keterangan tertulis Kemlu RI, Kamis (5/2).

Ia juga mengingatkan kembali agar para WNI yang tengah menjalani proses deportasi dan sanak saudaranya di tanah air berhati-hati terhadap pihak-pihak yang berusaha melakukan penipuan dengan mengatasnamakan KBRI Phnom Penh.

“Fasilitasi KBRI tidak dipungut biaya, kecuali biaya penerbitan dokumen perjalanan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku”, pungkasnya. (bp)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.