2 Anggota TNI Diduga Jual Amunisi ke KKB, DPR Minta Investigasi Menyeluruh

Jakarta, IDM – Anggota Komisi I DPR RI Syamsu Rizal atau yang akrab disapa Deng Ical, merespon terkait dugaan keterlibatan dua anggota TNI dalam penjualan amunisi kepada Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Puncak Jaya, Papua.
Deng Ical menilai bahwa kasus ini menyangkut keamanan negara dan keselamatan masyarakat.
Amunisi yang seharusnya digunakan untuk menjaga kedaulatan bangsa justru diduga dijual kepada pihak yang selama ini menjadi ancaman nyata bagi rakyat Papua maupun aparat keamanan.
“Kalau benar ada anggota TNI yang terlibat menjual amunisi kepada KKB, itu adalah pengkhianatan terhadap negara. Tidak ada kompromi untuk tindakan seperti ini. Saya mendesak TNI segera melakukan investigasi menyeluruh, memeriksa secara detail, dan jika terbukti, oknum tersebut harus dihukum berat,” tegas Deng Ical, Rabu (1/10).
Baca Juga: Dorong Reformasi PBB, Komisi I Minta Hak Veto Dihapus
Deng Ical menambahkan, kejahatan semacam itu tidak hanya melanggar hukum militer, tetapi juga mencederai rasa keadilan masyarakat serta merusak citra TNI sebagai penjaga kedaulatan bangsa.
Ia menekankan, penindakan tegas adalah satu-satunya jalan untuk menunjukkan keseriusan TNI dalam menjaga integritas dan disiplin internal.
“Kita semua tahu KKB telah banyak menimbulkan korban, baik dari kalangan masyarakat sipil maupun aparat keamanan. Jangan sampai ada oknum yang justru memperkuat posisi KKB dengan cara-cara kotor. Jika terbukti, hukumannya harus maksimal agar menjadi efek jera bagi siapa pun yang berniat melakukan hal serupa,” ujarnya.
Baca Juga: Komisi I: Penggunaan Foto Presiden Prabowo dalam Konteks Tidak Resmi Perbuatan Tak Patut
Deng Ical pun meminta TNI memperketat mekanisme pengawasan internal, terutama dalam distribusi senjata dan amunisi di wilayah konflik.
Ia menilai lemahnya kontrol dapat menjadi pintu masuk bagi oknum tidak bertanggung jawab untuk menyalahgunakan kewenangan mereka.
“Pengawasan harus diperketat, rantai distribusi amunisi harus jelas dan terkontrol. TNI adalah benteng pertahanan rakyat. Jika ada oknum yang bermain di dalam, maka benteng itu bisa runtuh dari dalam. Itu yang harus dicegah bersama-sama,” ucapnya.
Sebagai anggota Komisi I DPR RI yang membidangi pertahanan, intelijen, dan keamanan, Deng Ical menerangkan pihaknya akan terus mengawasi perkembangan kasus ini.
Baca Juga: DPR Yakin Komitmen Presiden terhadap Kemerdekaan Palestina dan Perdamaian Dunia
DPR, kata dia, berkepentingan memastikan agar institusi pertahanan negara tetap bersih, solid, dan profesional.
Deng Ical juga menyampaikan harapannya agar kasus ini dapat segera dituntaskan demi memulihkan kepercayaan publik. Ia menegaskan bahwa tindakan cepat dan transparan akan menjadi bukti nyata bahwa TNI tidak memberi ruang bagi oknum yang berkhianat.
“Jangan ada yang main-main dengan kedaulatan bangsa. Ini menyangkut harga diri negara. Kita harus serius memberantas KKB dan pada saat yang sama menutup semua peluang bocornya dukungan dari dalam. Itu artinya, TNI harus bersih, tegas, dan tanpa kompromi,” pungkas Deng Ical. (Ykb)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































