Ukraina Butuh 1.000 Howitzer dan 500 Tank untuk Lawan Rusia

Jakarta, IDM - Ukraina telah berulang kali menyatakan kebutuhannya akan persenjataan berat untuk mempertahankan negaranya dalam melawan Rusia.
Penasihat Kepala Kantor Presiden Ukraina Mykhailo Podolyak lewat cuitan akun Twitter pribadinya, Senin (13/6) mengatakan, Ukraina membutuhan seribu howitzer, 500 tank, 300 sistem peluncur roket ganda, dan dua ribu kendaraan lapis baja.
"Bersikap lugas – untuk mengakhiri perang kita membutuhkan peralatan senjata berat: 1000 howitzer kaliber 155 mm; 300 MLRS; 500 tank; 2000 kendaraan lapis baja; 1000 drone," ujar Mykhailo, dikutip dari akun @Podolyak_M, dikutip Selasa (14/6).
Sementara itu, Kelompok Kontak Menteri Pertahanan (Contact Group of Defense Ministers) dilaporkan akan menggelar pertemuan di markas Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Brussel, Belgia, Rabu (15/6) besok, dan dipimpin oleh Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Lloyd Austin.
Dikutip dari laman resmi Departemen Pertahanan AS, nantinya pada pertemuan tersebut, Austin kembali mengundang para Menteri Pertahanan dan pejabat senior militer dari seluruh dunia untuk membahas krisis yang sedang berlangsung di Ukraina. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































