Uji Coba Rudal Balistik 'Sarmat', Putin: Terkuat di Dunia

Jakarta, IDM - Rusia meluncurkan uji coba rudal balistik antarbenua 'Sarmat' pada Rabu (13/5) pukul 11.15 waktu setempat, yang diklaim Presiden Vladimir Putin sebagai rudal terkuat di dunia.
Melansir laman Kepresidenan Rusia Kremlin.ru, Putin menyatakan bahwa Sarmat dirancang untuk melakukan penerbangan suborbital, dan menjangkau lebih dari 35.000 km. Dengan teknologi canggih yang dimiliki, kata dia, Sarmat dapat menembus semua sistem pertahanan anti-rudal yang ada saat ini maupun di masa depan.
Baca Juga: Cina Bantah Bantu Iran Produksi Rudal
Ia menuturkan, Sarmat mulai dikembangkan pada 2011 dan membutuhkan tujuh tahun untuk Sarmat akhirnya diumumkan ke publik. Ia mengklaim, Sarmat merupakan sistem rudal paling kuat di dunia.
"Ini adalah sistem rudal paling kuat di dunia… Total daya ledak hulu ledak yang dimiliki lebih dari empat kali lipat dibandingkan dengan sistem rudal Barat terkuat yang ada saat ini," kata Putin.
Baca Juga: Iran Beri 5 Syarat untuk Mulai Negosiasi dengan AS
Rencananya rudal ini akan diresmikan dan siaga tempur mulai akhir 2026. Putin pun menekankan, Rusia akan terus mengembangkan kekuatan nuklir. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































