Tragedi Latsarmil SPPI Harus Perkuat Standar Keselamatan Pembinaan Kader Bangsa

Jakarta, IDM – Duka atas meninggalnya empat peserta dalam Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) harus menjadi momentum untuk melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem penyelenggaraan pelatihan kader pembangunan yang mengadopsi pendekatan kemiliteran.
Evaluasi tidak boleh berhenti pada pencarian penyebab insiden, tetapi harus diarahkan pada penguatan tata kelola keselamatan tanpa menghilangkan tujuan strategis pembentukan karakter kepemimpinan.
Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya dua peserta dalam pelatihan tersebut.
Baca Juga: Evaluasi Latsarmil SPPI, DPR Dorong Penguatan SDM Pendukung Sishankamrata
Menurutnya, setiap kehilangan nyawa merupakan tragedi yang harus menjadi perhatian serius seluruh penyelenggara program.
"Setiap kehilangan nyawa merupakan duka yang harus menjadi perhatian serius bagi seluruh penyelenggara," ujar Amelia.
Di sisi lain, Amelia menilai konsep dasar Latsarmil tetap memiliki relevansi dalam mendukung pembangunan nasional.
Bagi calon manajer yang akan memimpin berbagai program strategis pemerintah di lapangan, pelatihan tersebut tidak hanya berorientasi pada pembentukan fisik, tetapi juga membangun disiplin, integritas, kepemimpinan, ketahanan mental, kemampuan bekerja dalam tim, serta kecakapan mengambil keputusan dalam situasi penuh tekanan.
Kompetensi tersebut, kata Amelia, merupakan bagian dari pembangunan sumber daya manusia yang tangguh.
Baca Juga: Judi Online di Media Sosial Ancam Ketahanan Ruang Siber Nasional
Kepemimpinan sipil yang memiliki daya tahan, disiplin, dan kemampuan manajemen krisis dinilai menjadi salah satu modal penting dalam memperkuat ketahanan nasional menghadapi berbagai ancaman nonmiliter, mulai dari bencana, krisis pangan, hingga tantangan sosial yang semakin kompleks.
Meski begitu, Amelia menegaskan tujuan strategis tersebut tidak boleh mengesampingkan aspek keselamatan peserta.
Ia meminta pemerintah melakukan evaluasi secara menyeluruh dan transparan terhadap seluruh tahapan pelaksanaan Latsarmil, mulai dari standar keselamatan, pemeriksaan kesehatan, manajemen risiko, prosedur latihan, hingga sistem pengawasan selama kegiatan berlangsung.
Amelia menerangkan apabila evaluasi menemukan adanya kelemahan dalam pelaksanaan, maka perbaikan harus segera dilakukan secara menyeluruh.
Baca Juga: Dua Peserta Kopdes-KNMP Meninggal, DPR Minta Evaluasi Latsarmil
Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama tanpa mengurangi substansi pembentukan karakter yang menjadi tujuan utama program.
Amelia berpandangan, penghentian program bukanlah solusi yang tepat. Yang dibutuhkan justru reformasi penyelenggaraan melalui penerapan standar keselamatan yang lebih ketat, serta mekanisme evaluasi berbasis bukti agar setiap tahapan pelatihan memenuhi prinsip akuntabilitas dan mitigasi risiko.
"Program ini sebaiknya tetap dilanjutkan, tetapi dengan standar keselamatan yang lebih ketat, pengawasan yang lebih profesional, serta evaluasi berbasis bukti. Program yang baik tidak diukur dari ada atau tidaknya tantangan, melainkan dari kemampuan penyelenggara belajar dari setiap kejadian dan memastikan peristiwa serupa tidak terulang kembali," tegas Amelia.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































