INTERNASIONAL

Sentil Sekutu di Asia, Bos Pentagon Tegaskan Hal Ini

Sjafrie Sjamsoeddin dan Pete Hegseth
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth (kanan) saat bersama Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin (kiri). (Foto: Dok. Pentagon AS)

Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth melempar sentilan keras kepada negara-negara sekutunya di kawasan Asia. Melansir Reuters, bos Pentagon ini menegaskan, Washington tidak akan lagi menoleransi aksi curang alias numpang gratisan (freeloading) dalam urusan anggaran pertahanan.

Hegseth menyampaikan gertakan tersebut saat berpidato dalam forum Shangri-La Dialogue di Singapura, yang menjadi panggung utama pertemuan para menteri pertahanan dan pakar militer se-Asia. Dia secara blak-blakan meminta negara mitra untuk segera mendongkrak belanja militer mereka demi membendung kepungan kekuatan armada militer Cina yang kian agresif.

Baca Juga: Prancis Akui Peran Indonesia di Bawah Presiden Prabowo dalam Menjaga Stabilitas Dunia

Mengutip laporan Reuters, Hegseth menyatakan, era di mana AS menyubsidi pertahanan negara-negara makmur kini sudah selesai. "Kita membutuhkan mitra, bukan protektorat," ujar Hegseth dengan nada tinggi di hadapan delegasi asing, Sabtu (30/5).

Untuk menghadapi ancaman geopolitik modern, Pentagon kini mematok target tinggi. Pihaknya mendesak para sekutu di Asia untuk mengalokasikan minimal 3,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau total nilai produksi barang dan jasa suatu negara, khusus untuk memperkuat sektor militer mereka.

Tuntutan bernilai jumbo ini mencuat bukan tanpa alasan. Sikap keras Hegseth ini sejatinya menggemakan kembali instruksi lama Presiden Donald Trump yang sejak awal jabatannya selalu menuntut pembagian beban biaya pertahanan secara adil. Trump secara konsisten menekan mitranya di Eropa, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), hingga Asia agar mengurangi ketergantungan finansial pada kas Washington.

Baca Juga: PM Israel Perintahkan Militer untuk Ambil Alih 70% Jalur Gaza

Meski melayangkan teguran keras soal dana pertahanan, Hegseth tetap melontarkan pujian bagi beberapa negara yang dinilai sudah mulai patuh. Dia mengapresiasi langkah konkret dari Filipina, Korea Selatan, Australia, Singapura, Malaysia, Thailand, hingga Jepang yang kedapatan terus mengucurkan investasi besar untuk mempertebal sistem keamanan mandiri mereka.

Di sisi lain, gertakan Pentagon ini menjadi sinyal kuat, peta geopolitik Asia Pasifik bakal semakin memanas. Kendati demikian, Hegseth meyakinkan publik bahwa AS tetap mampu menjaga stabilitas di kawasan ini. Menurutnya, kunci utama untuk meredam potensi konflik bukanlah sekadar memperbanyak forum diskusi, melainkan dengan memamerkan kesiapan tempur yang nyata lewat penambahan unit kapal perang serta kapal selam.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.