Sebagai Mediator, Pakistan Desak AS-Iran Lanjut Berunding

Jakarta, IDM – Pakistan berupaya terus mendesak Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menghentikan konflik dan kembali ke jalur diplomatik berdasarkan Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada bulan lalu.
Baca Juga: Lebanon-Israel Berunding, akan Bentuk Zona Percontohan
“Meskipun implementasi MoU menghadapi tantangan, Pakistan akan terus mendorong semua pihak untuk mengakhiri kekerasan dan melanjutkan pembicaraan tingkat teknis,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tahir Andrabi melansir Al Jazeera, Kamis (16/7).
Sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu, Pakistan menjalankan peran penting sebagai mediator. Pakistan juga menjadi tuan rumah perundingan langsung pada April lalu, momen perdana dalam empat dekade bagi pejabat AS dan Iran duduk bersama dalam satu ruangan.
Baca Juga: IRGC Ancam Putus Jalur Ekspor Energi dari Timur Tengah
Pakistan pun berhasil mendorong tercapainya MoU yang ditandatangani oleh Presiden Iran Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump. Kesepakatan itu kemudian dibahas lebih merinci saat KTT Burgenstock di Swiss.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































