Rusia Tolak Tuduhan Ukraina Telah Serang PLTN Chernobyl

Jakarta, IDM – Rusia menepis tuduhan Ukraina bahwa pihaknya telah melakukan serangan drone dan merusak tempat perlindungan di area Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chernobyl pada beberapa waktu lalu.
Dilansir dari Reuters, Jumat (14/2), juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa ia tidak memiliki informasi pasti mengenai dugaan insiden tersebut, tetapi ia menegaskan Rusia tidak menyerang infrastruktur nuklir.
Baca Juga: Zelensky Tolak Proposal Kesepakatan Damai Tanpa Keterlibatan Ukraina
"Militer Rusia tidak melakukan itu. Mereka tidak melakukannya. Ini kemungkinan besar hanya provokasi lain," kata Peskov.
"Itulah yang suka dilakukan rezim Kyiv dan terkadang, pada kenyataannya, tidak malu melakukannya," sambungnya.
Baca Juga: Tuntut Komitmen Israel, Hamas Tidak Ingin Gencatan Senjata Berakhir
Hal itu ia ungkapkan usai Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut drone Rusia menghantam tempat yang dibangun untuk menahan radiasi Chernobyl. Menurut Angkatan Udara Ukraina, Rusia telah meluncurkan lebih dari 100 drone di berbagai wilayah Ukraina dalam waktu semalaman. Tingkat radiasi di wilayah itu dilaporkan tetap normal usai insiden tersebut. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































