Presiden Korut Kerahkan 250 Peluncur Rudal

Jakarta, IDM – Presiden Korea Utara (Korut) Kim Jong Un mengawasi langsung pengerahan 250 peluncur rudal balistik taktis tipe baru ke Angkatan Bersenjata Korut yang bertugas di garis depan.
"Upacara pengerahan 250 peluncur rudal balistik taktis tipe baru yang diproduksi di perusahaan industri amunisi ke unit militer perbatasan Korut berlangsung di Ibu Kota Pyongyang pada tanggal 4 Agustus," tulis media pemerintah Korut, KCNA, Senin (5/8).
Baca Juga: Konfirmasi Kedatangan F-16, Presiden Ukraina: Babak Baru Bagi Angkatan Udara
Beberapa foto yang dirilis oleh KCNA menunjukkan deretan peluncur rudal, dan disebut berfungsi sebagai "perangkat militer utama" bagi Angkatan Bersenjata Korut.

Kim pun kembali memerintahkan peningkatan program nuklir militer untuk melawan ancaman Amerika Serikat (AS). Namun, tidak dijelaskan mengenai spesifikasi sistem rudal maupun lokasi pengerahannya.
Baca Juga: Pertama Kali, Penjaga Pantai Filipina dan Vietnam Gelar Latihan Gabungan
"Kim Jong Un menyatakan keyakinannya bahwa senjata terkini secara signifikan meningkatkan kekuatan… untuk mempertahankan kedaulatan negara dan perdamaian," katanya. (bp)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































