Prancis Akui Peran Indonesia di Bawah Presiden Prabowo dalam Menjaga Stabilitas Dunia

Jakarta, IDM – Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan pentingnya peran Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam menjaga stabilitas kawasan dan mendorong perdamaian dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan usai pertemuan bilateral kedua pemimpin di Istana Élysée, Paris, Prancis.
Dalam pernyataannya, Macron memberikan penghormatan atas konsistensi Indonesia dalam mengedepankan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi, termasuk terkait situasi di Timur Tengah dan dukungan terhadap hak-hak rakyat Palestina.
Baca Juga: PM Israel Perintahkan Militer untuk Ambil Alih 70% Jalur Gaza
“Saya ingin memberikan penghormatan atas peran Anda, persahabatan Anda, serta sikap sangat berani yang Anda ambil tahun lalu demi perdamaian di Timur Tengah, termasuk dukungan Anda terhadap pengakuan Palestina,” kata Macron.
Bagi Prancis, posisi Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara dan kekuatan strategis di kawasan Indo-Pasifik menjadi faktor penting dalam upaya menjaga keseimbangan dan stabilitas keamanan global.
Maka dari itu, dialog antara Prabowo dan Macron tidak hanya membahas kerja sama bilateral, tetapi juga berbagai tantangan keamanan internasional yang berkembang.
Dalam pembahasan tersebut, kedua pemimpin juga bertukar pandangan mengenai situasi keamanan di Timur Tengah, termasuk kondisi di Lebanon yang hingga kini masih menghadapi tekanan akibat konflik berkepanjangan.
Baca Juga: UNIFIL Sorot Meningkatnya Konflik di Lebanon
Macron secara khusus mengapresiasi komitmen Indonesia, termasuk kontribusi aparat pertahanan Indonesia dalam mendukung misi-misi perdamaian dunia.
“Saya ingin menghormati komitmen Anda, Presiden, komitmen angkatan bersenjata Anda, dan tekad bersama kita untuk terus bekerja demi perdamaian dan kedaulatan Lebanon,” ujar Macron.
Pernyataan tersebut mencerminkan pengakuan Prancis terhadap peran aktif Indonesia dalam berbagai operasi dan inisiatif perdamaian internasional.
Pasalnya, selama ini Indonesia dikenal sebagai salah satu kontributor pasukan penjaga perdamaian terbesar di bawah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks, Indonesia dan Prancis juga memperkuat kemitraan strategis di sektor pertahanan.
Baca Juga: Rafale Tiba di Indonesia, Presiden Prabowo dan Macron Sepakat Perluas Kemitraan Global
Hubungan kedua negara dalam beberapa tahun terakhir berkembang pesat, mencakup modernisasi alat utama sistem persenjataan, peningkatan interoperabilitas, penguatan industri pertahanan, hingga kerja sama keamanan maritim.
Pertemuan Prabowo dan Macron di Paris semakin menegaskan bahwa kemitraan Indonesia-Prancis tidak semata berorientasi pada kepentingan bilateral, tetapi juga diarahkan untuk mendukung stabilitas kawasan Indo-Pasifik serta perdamaian global.
Dengan semakin kuatnya kerja sama strategis kedua negara, Indonesia dipandang tidak hanya sebagai mitra pertahanan penting bagi Prancis, tetapi juga sebagai salah satu aktor utama yang berkontribusi dalam menjaga keamanan dan ketertiban dunia.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































