INTERNASIONAL

Picu Kekacauan, Presiden Korsel Cabut Darurat Militer

Presiden Korsel Yoon Suk Yeol
Presiden Korsel Yoon Suk Yeol (Foto: Dok. Korea.net)

Jakarta, IDM – Presiden Korea Selatan (Korsel) Yoon Suk Yeol telah secara resmi mencabut darurat militer dalam rapat kabinet pada Rabu (4/12) pagi waktu setempat, enam jam setelah ia memberlakukan aturan tersebut.

Dilansir dari KBS, laman media Korsel, Rabu (4/12), darurat militer secara resmi dicabut sekitar pukul 4:30 pagi selama rapat Kabinet dan secara keseluruhan, aturan itu berlaku selama sekitar enam jam. Semua pasukan yang dimobilisasi berdasarkan darurat militer pun disebut telah kembali ke unit masing-masing.

Pada Selasa (3/12) malam, Yoon secara mendadak memberlakukan darurat militer dengan alasan untuk melenyapkan kekuatan "anti-negara" yang beraliansi dengan Korea Utara (Korut).

Baca Juga: Pasukan Korut Bantu Rusia Lawan Ukraina, AS: Mereka Target yang Sah

"Saya nyatakan darurat militer untuk melindungi Republik Korea yang merdeka dari ancaman pasukan komunis Korea Utara, untuk membasmi pasukan anti-negara pro-Korea Utara yang hina yang merampas kebebasan dan kebahagiaan rakyat kita, dan untuk melindungi tatanan konstitusional yang bebas," imbuhnya.

"Melalui darurat militer ini, saya akan membangun kembali dan melindungi Republik Korea yang merdeka, yang tengah jatuh ke jurang kehancuran nasional. Untuk tujuan ini, saya pasti akan membasmi pasukan anti-negara yang menjadi biang keladi utama kehancuran negara dan melakukan tindakan-tindakan kejam," sambungnya.

Sesaat setelah memberlakukan darurat militer untuk pertama kalinya dalam 45 tahun, sebanyak 190 anggota parlemen dari total 300 anggota menolak keputusan Yoon, yang membuatnya wajib mematuhi mosi tersebut.

Baca Juga: AS akan Kirim Bantuan Militer ke Ukraina Senilai $725 Juta

Masyarakat Korsel pun melakukan demonstrasi di berbagai tempat termasuk di area parlemen, yang telah dijaga oleh pasukan militer. Berdasarkan deklarasi darurat militer, semua kegiatan politik dilarang, termasuk kegiatan parlemen, partai politik hingga demonstrasi.

Selain itu, seluruh media dan publikasi harus tunduk pada kendali Komando Darurat Militer. Mereka yang melanggar, akan "ditangkap, ditahan, dan digeledah tanpa surat perintah sesuai dengan Pasal 9 Undang-Undang Darurat Militer Republik Korea (Otoritas Tindakan Khusus Komandan Darurat Militer), dan akan dihukum sesuai dengan Pasal 14 Undang-Undang Darurat Militer (Sanksi)". (bp)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.