INTERNASIONAL

Pesawat A400M Perdana Tiba, Ini Jadwal Kedatangan Kedua

Karl-Heinz Grossman dan Zakir Hamid
(Dari kiri) Karl-Heinz Grossman Head of International at Airbus Defence and Space, Gerd Weber, Head of A400M Programme Airbus Defense and Space, dan Zakir Hamid Head of Region Asia-Pacific Airbus Defense and Space di Jakarta. (IDM/Bunga Permata)

Jakarta, IDM – Airbus Defence and Space menyerahkan Pesawat A400M pertama kepada Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Kemhan RI) di Base Ops Lanud Halim pada Senin (3/11).

Pesawat ini merupakan unit pertama dari dua pesawat A400M yang dipesan Presiden Prabowo Subianto, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan pada November 2021. Indonesia juga menjadi negara operator kesepuluh, menyusul Jerman, Prancis, Spanyol, Inggris, Turki, Belgia, Luxembourg, Malaysia dan Kazakhstan. Lebih dari 130 unit pesawat A400M telah bertugas dengan total jam terbang lebih dari 220.000 jam.

"Ini bukan hanya membanggakan bagi Indonesia tetapi juga bagi seluruh komunitas operator A400M di dunia, sebagai simbol kemampuan angkut militer modern yang telah menjadi tolak ukur di kawasan Eropa, Timur Tengah hingga Asia Pasifik," ujar Karl-Heinz Grossman, Head of International at Airbus Defence and Space, dalam media roundtable di Jakarta, Senin (3/11).

Baca Juga: Filipina-Kanada Sepakati Perluasan Latihan Militer

Adapun, unit kedua pesanan Indonesia kini telah memasuki Lini Perakitan Akhir (Final Assembly Line/FAL) dan dijadwalkan untuk siap dikirim dalam kurun waktu tiga bulan atau pada Februari 2026.

"[Pesawat kedua] Ini berada di Lini Perakitan Akhir dan akan siap dikirim pada bulan Februari [2026]," kata Gerd Weber, Head of A400M Programme, Airbus Defense and Space.

Pesawat dengan kapasitas angkut hingga 37 ton dan jarak tempuh sejauh 2.400 mil laut ini mampu mendukung berbagai misi, termasuk transportasi taktis, misi strategis, evakuasi medis, bantuan kemanusiaan serta penanggulangan bencana.

Baca Juga: Bertemu Presiden Korsel, Prabowo Sebut Proyek Pesawat Tempur KF-21 Berlanjut

Selain mampu terbang dengan maksimum ketinggian 40.000 feet (kaki), pesawat ini dirancang untuk mampu beroperasi di landasan pendek sekitar 1000 meter, tidak beraspal hingga di pasir pantai.

Airbus dan Indonesia juga akan mengkaji potensi mengintegrasikan perangkat pemadam kebakaran (firefighting kit) pesawat A400M yang baru dikembangkan. Perangkat modular roll-on/roll-off ini memungkinkan pesawat A400M untuk menjadi pesawat pemadam kebakaran udara tanpa perlu modifikasi.

Inovasi ini memungkinkan A400M menjatuhkan hingga 20 ribu liter air atau zat pemadam dalam satu kali penerbangan dan dapat diisi ulang dalam waktu kurang dari 15 menit. Kapabilitas baru ini akan secara signifikan meningkatkan kemampuan Indonesia dalam menanggulangi kebakaran hutan di wilayah-wilayah terpencil dan sulit dijangkau. (bp)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.