Pemimpin Tertinggi Iran Peringatkan Respons Keras ke Israel

Jakarta, IDM – Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan Israel dan Amerika Serikat (AS) pihaknya akan memberi "respons yang menghancurkan" atas kekerasan terhadap Iran dan sekutunya.
"Musuh-musuh, baik rezim Zionis maupun AS, pasti akan menerima respons yang menghancurkan atas apa yang mereka lakukan terhadap Iran dan bangsa Iran serta terhadap front perlawanan," kata Khamenei, yang merujuk pada kelompok bersenjata pro-Iran, termasuk Houthi, Hizbullah dan Hamas, melansir Al Jazeera, Minggu (3/11).
Pernyataan itu ia ungkapkan saat di hadapan para mahasiswa menjelang peringatan 45 tahun pengambilalihan kedutaan AS di Teheran tahun 1979.
Baca Juga: Ukraina: Rusia Telah Meluncurkan 6.987 Drone Sejak Awal Tahun
Hubungan antara AS dan Iran belum benar-benar stabil sejak 4 November 1979, ketika pengunjuk rasa Iran menangkap lebih dari 50 diplomat AS dan staf kedutaan, memicu penyanderaan yang berlangsung selama 444 hari.
Sementara, ketegangan antara Iran dan Israel telah meningkat selama beberapa bulan terakhir. Minggu lalu, Israel meluncurkan serangan udara ke Iran, yang diklaim menargetkan fasilitas militer. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































