Palestina akan Gelar Pemilu Legislatif, Pertama dalam 20 Tahun

Jakarta, IDM – Palestina akan menggelar pemilu anggota Dewan Legislatif Palestina (PLC) pada 28 November 2026, berdasarkan dekrit Presiden Mahmoud Abbas. Pemilu ini akan menjadi yang pertama dalam 20 tahun.
Baca Juga: AS-Iran Kembali Saling Serang, Perburuk Ketegangan di Kawasan
Pemilu legislatif terakhir dilaksanakan pada 2006, ketika Hamas meraih kemenangan. Hasil itu memicu perpecahan politik dengan Partai Fatah, yang berpuncak pada penguasaan Gaza oleh Hamas setahun kemudian.
Melansir Al Jazeera, Jumat (10/7), Selain pemilu legislatif, pemerintah Palestina juga akan melakukan pemilihan presiden pada triwulan pertama 2027. Namun, hingga kini belum ada tanggal pasti yang ditetapkan. Jadwal resmi akan diumumkan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Baca Juga: Di Tengah Ketidakpastian Global, Indonesia Tekankan Pentingnya Multilateralisme
Adapun, Abbas terpilih untuk masa jabatan empat tahun pada tahun 2005 dan tetap menjabat sejak saat itu. Ia telah memerintah melalui dekrit selama lebih dari 15 tahun, yang menyebabkan tuduhan, baik di dalam Palestina maupun di luar negeri, tentang korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































