INTERNASIONAL

Menteri Sayap Kanan Israel Desak Netanyahu Segera Taklukkan Gaza dan Tolak Gencatan Senjata

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu didesak agar segera menaklukkan secara penuh dan tolak genjatan senjata dengan Gaza. (Foto: X/Prime Minister of Israel)

Jakarta, IDM – Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu agar segera menaklukkan secara penuh dan tolak gencatan senjata dengan Gaza.

Dalam unggahannya di platform X, Ben-Gvir juga mendesak agar Israel melakukan evakuasi paksa terhadap penduduk Gaza dan merebut kendali penuh atas wilayah. Hal tersebut sebagai respons terhadap usulan gencatan senjata yang sedang dinegosiasikan.

Ia juga menyebut setiap kesepakatan gencatan senjata yang mencakup demiliterisasi Gaza di masa mendatang, merupakan bentuk ‘hadiah bagi terorisme'.

Baca Juga: Presiden AS Ungkap Kemungkinan Gencatan Senjata Gaza Pekan Depan

“Satu-satunya cara untuk meraih kemenangan adalah melalui penaklukan penuh Jalur Gaza, penghentian total bantuan ‘kemanusiaan’ dan dorongan untuk emigrasi. Saya menyerukan kepada perdana menteri untuk meninggalkan jalan menyerah dan kembali ke jalan kemenangan,” ucap Ben-Gvir, dikutip dari Press TV, Senin (7/7).

Terpisah, kelompok Hamas merespons positif terhadap rancangan gencatan senjata terbaru. Namun, Hamas mengusulkan tiga perubahan penting pada dokumen yang disusun para mediator internasional.

Usulan Hamas mencakup kelanjutan perundingan mengenai gencatan senjata permanen jika kesepakatan belum tercapai dalam masa jeda 60 hari; penempatan sementara pasukan Israel selama masa jeda dan pendistribusian bantuan kemanusiaan melalui badan-badan PBB, bukan melalui Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang didukung oleh Israel dan Amerika Serikat (AS).

Semenjak GHF mulai beroperasi di Gaza pada akhir Mei, lebih dari 700 warga Palestina dilaporkan tewas. Bahkan ribuan lainnya terluka saat mencoba mengakses bantuan di sekitar lokasi pendistribusian.

Baca Juga: Perundingan Gencatan Senjata Israel-Hamas Berakhir Tanpa Hasil

Hamas membeberkan pihaknya siap untuk segera melanjutkan perundingan baru mengenai mekanisme implementasi kerangka gencatan senjata. Kelompok tersebut menginginkan setiap kesepakatan mencantumkan komitmen Israel mengakhiri operasi militer secara permanen.

Merespons pernyataan Hamas, Israel bakal mengirim tim negosiator ke Qatar untuk melanjutkan pembicaraan rencana gencatan senjata. Para mediator internasional mengemukakan telah menyusun proposal akhir untuk gencatan senjata selama 60 hari. Rencana tersebut bertujuan mengakhiri konflik berkepanjangan selama hampir dua tahun di Gaza.

Otoritas Gaza melaporkan sebanyak 57.338 warga Palestina telah kehilangan nyawa, dan 135.957 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan Israel sejak 7 Oktober 2023. (ykb)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.