Kelompok Wagner Batal Kudeta, Kepemimpinan Putin Dipertanyakan

Jakarta, IDM - Pasukan bayaran Wagner yang dipimpin Yevgeny Prigozhin, batal bergerak ke Ibu Kota Moskow dalam aksi kudeta pada beberapa waktu lalu. Kini, Prigozhin dilaporkan menuju ke Belarus usai ia melakukan kesepakatan dengan Putin, yang dimediasi Presiden Belarus Alexander Lukashenko.
Dalam sebuah rekaman video di Telegram, Prigozhin mengaku akan mencapai Moskow dalam jarak kurang dari 200 km kemarin. Ia melakukan hal itu karena mengaku ingin menggulingkan Kementerian Pertahanan Rusia yang dianggap gagal. Ditambah lagi, ia mengklaim bahwa Rusia telah meluncurkan serangan udara terhadap pasukannya
Menanggapi pemberontakan tersebut, Putin pun mengerahkan tank dan pasukan bersenjata di jalan utama dari Rostov menuju Moskow. Bahkan, di beberapa rekaman yang beredar, banyak jalan yang sengaja dihancurkan untuk mempersulit mobilisasi pasukan Wagner.
Baca Juga: Tingkatkan Hubungan Bilateral, Kapal Induk AS Akan Berkunjung ke Vietnam
Dilansir dari CNN, Senin (26/6), setelah 36 bertolak dari Rostov, Prigozhin menarik mundur pasukannya usai melakukan kesepakatan bersama Putin yang dimediasi Lukashenko, dengan jaminan keselamatan di Belarus.
Menurut Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, Lukashenko lah yang menawarkan diri untuk menengahi kedua pihak karena ia telah mengenal Prigozhin selama 20 tahun. Kendati demikian, Peskov tidak menjelaskan berapa lama Prigozhin diizinkan untuk menetap di Belarus.
Insiden pemberontakan Wagner ini merupakan pukulan telak bagi kepemimpinan Rusia, dan menimbulkan banyak pertanyaan terkait kuasa Putin yang melemah. Menurut Jill Dougherty, pengamat Rusia, kini Putin terlihat lemah tidak hanya bagi musuhnya, tetapi juga bagi rakyatnya sendiri. Hal itu dapat menimbulkan resiko berbahaya terlebih jika rakyat beralih mendukung kudeta.
Baca Juga: Pererat Kerjasama Pertahanan, Kapal Induk Ronald Reagan Tiba di Vietnam
“Jika saya menjadi Putin, saya akan khawatir ketika rakyat di Rostov menyemangati pasukan Wagner yang bersiap (menuju Moskow). Itu artinya mungkin mereka menyukai atau mendukung Wagner. Apa pun itu, semuanya berpengaruh buruk bagi Putin," kata Dougherty.
Hingga kini situasi antara Prigozhin dan Putin masih belum jelas, khususnya terkait siapa yang akan menjadi pengganti pasukan Wagner dalam operasi militer di Ukraina. Selain itu, Dougherty menilai Prigozhin dihadapkan kemungkinan ancaman yang besar. Sebab bagaimana pun, Putin menganggapnya sebagai pengkhianat negara.
“Putin tidak memaafkan pengkhianat. Bahkan jika Putin memerintahkan Prigozhin pergi ke Belarusia, dia masih pengkhianat. Saya pikir Putin tidak akan pernah memaafkan itu. Kejadian ini adalah dilema yang sulit bagi Moskow karena selama Prigozhin memiliki semacam dukungan, dia adalah ancaman, di mana pun dia berada," jelas Dougherty. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































