Jerman akan Beli 20 Pesawat Tempur Eurofighter

Jakarta, IDM – Kanselir Jerman Olaf Scholz mengumumkan rencana untuk membeli 20 pesawat Eurofighter dan menggarisbawahi komitmen Jerman selaku negara anggota NATO dalam memperkuat pertahanan usai Perang Rusia-Ukraina.
Pernyataan itu ia ungkapkan saat pameran dirgantara ILA di Berlin pada beberapa waktu lalu. Ia pun berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas produksi senjata.
Baca Juga: Presiden Prancis akan Kirim Pesawat Mirage ke Ukraina
"Kami akan memesan 20 Eurofighter lagi sebelum akhir sesi legislatif ini (dijadwalkan pada musim gugur 2025), selain 38 pesawat yang saat ini sedang dalam proses pengiriman," kata Scholz melansir Eurofighter, Jumat (7/6).
Eurofighter merupakan pesawat tempur multiperan bermesin ganda, sayap canard-delta, yang diproduksi oleh konsorsium Airbus, BAE Systems, dan Leonardo. Pesawat ini dengan rentang sayap 10,95 m ini dapat terbang hingga Mach 2.
Baca Juga: Kapal Selam Bertenaga Nuklir Rusia akan Kunjungi Kuba
“Pengumuman pemerintah Jerman adalah kabar baik bagi program Eurofighter dan mitra industri kami. Eurofighter Typhoon akan menjadi tulang punggung pertahanan Eropa selama beberapa dekade mendatang,” kata CEO Eurofighter Giancarlo Mezzanatto. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































