Israel Enggan Tarik Pasukan Sesuai Kesepakatan di Lebanon

Jakarta, IDM – Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengatakan bahwa Israel enggan untuk terlibat dalam negosiasi guna mengakhiri pendudukan Pasukan Bersenjata Israel (Israel Defense Forces/IDF) di wilayah Lebanon Selatan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Utus Wapres Gibran untuk Hadiri KTT G20
Melansir Bloomberg, Jumat (21/11), Salam mengatakan bahwa Presiden Lebanon Joseph Aoun telah menawarkan untuk memulai negosiasi dengan Israel guna membahas penarikan IDF dari lima pos di perbatasan.
"Saya mengulangi tawaran yang sama untuk bernegosiasi dengan Israel," kata Salam, seraya menambahkan bahwa belum ada tanggapan Israel atas tawaran Lebanon.
Baca Juga: Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL Gelar Kampanye Medis, Beri Pelayanan Kesehatan bagi Warga Lokal
Berdasarkan gencatan senjata yang disepakati pada November 2024, IDF seharusnya telah mundur dari Lebanon Selatan. Namun, hanya segelintir yang ditarik mundur dan sebagian besar lainnya masih mempertahankan posisi militernya di lima pos perbatasan. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































