Ini Alasan Arab Saudi, Pakistan dan Turki Teken Pakta Pertahanan

Jakarta, IDM – Arab Saudi, Pakistan, dan Turki telah menandatangani pakta pertahanan bersama, yang menurut pengamat didasarkan atas keinginan membentuk otonomi strategis di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Kesepakatan ini ditandatangani di Mekkah kemarin, oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Kementerian Luar Negeri Pakistan menyatakan, 'Mecca Agreement for Joint Defense' bertujuan untuk memberikan daya tangkal kolektif terhadap segala bentuk agresi. Serangan bersenjata terhadap salah satu dari ketiga negara akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya.
Baca Juga: Dewan Keamanan PBB Kecam Serangan Rudal Houthi
Proses perancangan kesepakatan ini telah dilakukan sejak lama. Negosiasi dimulai setelah pecahnya konflik Hamas-Israel pada 7 Oktober 2023 dan semakin intensif di tengah konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Di antara ketiga negara, Arab Saudi menjadi sasaran serangan Iran dan sekutunya, militan Houthi di Yaman. Iran pun telah menyerang negara-negara Teluk lainnya yang juga menampung aset militer AS.
Menurut Ozgur Unluhisarcikli, Direktur Pelaksana German Marshall Fund of the United States’ South and Wider Europe office sekaligus direktur regional Turki, kesepakatan ini mencerminkan keinginan akan otonomi strategis kawasan di tengah memudarnya kepercayaan terhadap tatanan keamanan yang ada.
Baca Juga: Pakistan, Arab Saudi dan Turki Teken Perjanjian Pertahanan Kolektif
Ia menyatakan, ketiganya cenderung memandang pemerintahan pusat yang kuat, integritas wilayah, dan institusi negara yang berfungsi efektif sebagai fondasi ketertiban. Sementara, sumber ketidakstabilan jangka panjang berupa fragmentasi negara, konflik sipil, dan eskalasi aktor non-negara.
Ketiganya juga saling melengkapi, dengan adanya kapabilitas industri pertahanan Turki, kekuatan finansial dan pengaruh Arab Saudi, serta pengalaman militer dan daya tangkal strategis Pakistan.
"Perlu dicatat bahwa ini merupakan kerangka kerja untuk koordinasi strategis, militer, dan industri pertahanan yang lebih erat di antara tiga kekuatan regional yang berpengaruh, dan bukan pakta pertahanan bersama yang dapat disandingkan dengan NATO," ujarnya melansir Al Jazeera, Sabtu (8/8).
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































