Hizbullah Tunjuk Pemimpin Pengganti Nasrallah

Jakarta, IDM – Hizbullah, kelompok bersenjata yang berbasis di Lebanon, telah memilih wakil kepala Hizbullah, Naim Qassem untuk menggantikan Sekretaris Jenderal Hassan Nasrallah, yang tewas dalam serangan udara Israel.
Baca Juga: AS Desak Israel Cabut Larangan Beroperasi UNRWA
Dilansir dari Reuters, Selasa (29/10), kelompok itu mengatakan bahwa Dewan Syura (pembuat keputusan utama Hizbullah) telah memilih Qassem (71 tahun), sesuai dengan mekanisme yang ditetapkan untuk menetapkan seorang sekretaris jenderal.
Qassem merupakan salah satu juru bicara utama Hizbullah, yang seringkali muncul di media terutama sejak kematian Nasrallah pada 27 September lalu. Ia juga pernah diangkat sebagai wakil kepala Hizbullah pada tahun 1991 oleh sekretaris jenderal Abbas al-Musawi.
Baca Juga: NATO: Pasukan Korut Telah Dikirim Ke Rusia
"Masa jabatannya dalam posisi ini mungkin menjadi yang terpendek dalam sejarah organisasi teroris ini jika ia mengikuti jejak pendahulunya Hassan Nasrallah dan Hashem Safieddine. Tidak ada solusi di Lebanon kecuali membubarkan organisasi ini sebagai kekuatan militer," kata Pemerintah Israel. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































