Helikopter Militer Tunisia Jatuh, Empat Tentara Tewas

Jakarta, IDM - Sebanyak empat tentara Tunisia tewas setelah sebuah helikopter militer jatuh di laut lepas di sebelah barat laut negara tersebut, Rabu (7/6).
"Kecelakaan itu menelan korban empat tentara," kata Presiden Tunisia Kais Saied, dikutip CNN Indonesia, Kamis (7/6).
Baca Juga: Azerbaijan akan Beli Pesawat C-27J Spartan dari Italia
Saied pun menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Kejadian tersebut membuat Saied kembali menekankan pentingnya 'memperbarui' peralatan militer.
Kementerian Pertahanan Tunisia sebelumnya bicara terkait dua mayat yang ditemukan laut tersebut. Mereka mengungkap komunikasi yang terputus dengan penerbangan malam helikopter di daerah Cape Serrat dengan empat awak kapal di dalamnya.
Baca Juga: NATO akan Tempatkan Pasukannya di Swedia
Beberapa tahun terakhir militer Tunisia kehilangan sejumlah pesawat dalam misi pelatihan atau pengintaian. Pada Oktober 2021, tiga tentara tewas ketika sebuah helikopter militer jatuh saat latihan malam di provinsi selatan Gabes. (un)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































