Hamas Ikut Perundingan Damai Gaza di Mesir

Jakarta, IDM – Para pejabat Hamas berada Mesir untuk melakukan perundingan dengan mediator terkait rincian implementasi tahap pertama proposal gencatan senjata Gaza yang diusulkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Baca Juga: Perkuat Keterampilan Tempur, TNI Latih Pasukan Kongo Kuasai Mortar
Tiba di Kairo kemarin, delegasi Hamas yang dipimpin Khalil Al-Hayya akan berunding dengan mediator AS dan Qatar di Kota Sharm El Sheikh pada Senin (6/10). Pembahasan tahap pertama berupa gencatan senjata sekaligus pembebasan 48 sandera yang ditahan oleh Hamas dan ditukar dengan tawanan yang ditahan Israel.
Presiden AS Donald Trump mengatakan, perundingan antara Hamas dengan para mediator telah berlangsung secara positif guna mengakhiri konflik dan menciptakan perdamaian di Timur Tengah.
Baca Juga: Trump Sebut Hamas Siap untuk Perdamaian
"Tim teknis akan bertemu lagi hari Senin di Mesir untuk membahas dan mengklarifikasi detail akhir. Saya diberitahu bahwa tahap pertama harus selesai minggu ini, dan saya meminta semua orang untuk bergerak cepat. Saya akan terus memantau "konflik" yang telah berlangsung berabad-abad ini," tulis Trump melalui platform Truth Social. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































