INTERNASIONAL

Gugurnya Praka Rico di Lebanon Perkuat Desakan Indonesia atas Perlindungan Pasukan Perdamaian PBB

Vahd Nabyl Achmad Mulachel
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Vahd Nabyl Achmad Mulachela. (Foto: Dok. Istimewa)

Jakarta, IDM – Gugurnya Prajurit Kepala (Praka) Rico Pramudia, personel TNI yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) menjadi duka nasional.

Lebih dari itu, tragedi ini memperkuat posisi diplomasi Indonesia dalam mendesak perlindungan lebih tegas bagi pasukan penjaga perdamaian PBB di wilayah konflik.

Pemerintah Indonesia menegaskan serangan terhadap personel pasukan perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan menuntut investigasi menyeluruh guna memastikan adanya pertanggungjawaban.

Baca Juga: Iran-Pakistan Kembali Berunding, Upaya Akhiri Konflik dengan AS

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Vahd Nabyl Achmad Mulachela menyampaikan bahwa pemerintah memberikan penghormatan tertinggi kepada almarhum.

Pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pihak UNIFIL, pemerintah Lebanon, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk proses repatriasi jenazah sekaligus mendorong investigasi atas insiden tersebut.

"Indonesia mendesak PBB untuk melakukan investigasi yang menyeluruh, transparan, dan akuntabel guna mengungkap fakta serta memastikan pertanggungjawaban atas insiden ini," ujar Nabyl dalam pernyataan resminya.

Praka Rico meninggal dunia setelah hampir sebulan menjalani perawatan intensif akibat luka berat yang dideritanya dalam serangan artileri di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan, pada 29 Maret 2026.

Baca Juga: Ini alasan NATO Ogah Bantu Trump Perangi Iran

Insiden yang juga menewaskan sejumlah personel TNI lainnya tersebut dinilai sebagai ancaman serius terhadap kredibilitas sistem perlindungan pasukan perdamaian internasional, terutama di kawasan konflik yang memiliki eskalasi militer tinggi.

Dalam konteks diplomasi pertahanan, Indonesia menilai keamanan pasukan penjaga perdamaian harus menjadi prioritas komunitas internasional.

Sebagai salah satu kontributor utama pasukan perdamaian PBB, Indonesia menekankan bahwa mandat penjaga perdamaian hanya dapat berjalan efektif apabila disertai jaminan keamanan yang kuat dari semua pihak yang bertikai.

"Keselamatan dan keamanan personel penjaga perdamaian PBB tidak dapat ditawar. Serangan terhadap personel tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional," tegas Nabyl.

Baca Juga: Menlu Iran Tiba di Pakistan, Lanjut Perundingan Damai

Pernyataan tersebut mencerminkan posisi diplomatik Indonesia yang konsisten dalam menempatkan perlindungan pasukan perdamaian sebagai bagian penting dari tata kelola keamanan global.

Selain menjadi bentuk penghormatan terhadap prajurit yang gugur, Nabyl mengatakan langkah diplomatik ini juga bertujuan memperkuat norma internasional terkait perlindungan personel misi perdamaian di bawah mandat PBB.

Gugurnya Praka Rico menambah daftar korban personel Indonesia dalam insiden serangan di Lebanon Selatan. Sebelumnya, Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, dan Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan juga gugur dalam rangkaian serangan yang sama. (Ykb)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.