Efek Kebijakan Imigrasi Trump, Komisi I DPR: Dubes AS Harus Jembatani Masalah Status WNI

Jakarta, IDM – Anggota Komisi I DPR RI, Junico Siahaan meminta dubes RI untuk AS yang baru agar bisa menjembatani masalah status WNI imbas kebijakan Presiden AS, Donald Trump.
Diketahui, Dwisuryo Indroyono Soesilo dipilih sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Amerika Serikat (AS) oleh Presiden Prabowo Subianto. Pelantikan ini sekaligus menutup kekosongan posisi strategis tersebut selama dua tahun.
Nico, sapaan akrabnya, menilai posisi Dubes di negara mitra strategis seperti AS bukan sekadar administratif, melainkan elemen kunci dalam menjaga kontinuitas diplomasi Indonesia, stabilitas hubungan bilateral, dan proyeksi kepentingan nasional di kancah global.
Nico menegaskan penempatan Dubes di Washington harus sejalan dengan kebutuhan diplomasi strategis.
"Amerika Serikat bukan hanya mitra dagang, tetapi juga poros geopolitik yang memengaruhi keamanan regional, investasi, dan perdagangan teknologi di kawasan Indo-Pasifik," ungkap Nico Siahaan, yang dikutip Kamis (28/8).
"Kekosongan jabatan selama dua tahun berpotensi melemahkan koordinasi Indonesia dalam berbagai isu strategis, termasuk kerja sama ekonomi, keamanan, dan isu global lainnya," tambahnya.
Baca Juga: Komisi I DPR RI Minta Pelaku Pengeroyokan Wartawan saat Meliput Sidak Ditindak Tegas
Nico pun menyoroti pentingnya kapasitas diplomasi yang mumpuni. Menurutnya, figur Dubes harus memiliki jejaring internasional yang luas, kemampuan negosiasi tingkat tinggi, dan kepekaan terhadap dinamika politik global. Terutama dalam konteks pergeseran prioritas AS di Indo-Pasifik dan persaingan strategis antara AS dan China.
"Kami mendorong Pemerintah untuk menempatkan penunjukan pejabat diplomatik berdasarkan meritokrasi dan kompetensi, agar kepentingan nasional di kancah internasional dapat dijaga optimal," ujar Nico.
Lebih lanjut, Anggota Komisi di DPR yang membidangi urusan luar negeri itu juga menekankan perlunya kesinambungan diplomasi.
Nico menilai, jabatan strategis seperti Dubes AS seharusnya tidak mengalami kekosongan panjang, agar koordinasi kebijakan luar negeri tetap berjalan konsisten dan efektif.
"Penempatan saudara Indroyono Soesilo jadi momentum untuk memastikan bahwa kepentingan Indonesia di Washington dijalankan secara profesional, transparan, dan responsif terhadap tantangan global," tutur Legislator dapil Jawa Barat I tersebut.
Baca Juga: Komisi I DPR RI Soroti Pentingnya Infrastruktur Penunjang Alutsista untuk Ketahanan Pangan Nasional
Nico berharap penunjukan para dubes Indonesia itu dapat menjadi langkah konkret untuk memperkuat kapasitas diplomasi Indonesia, bukan sekadar formalitas birokrasi.
"Pelantikan Dubes ini diharapkan bukan hanya menutup kekosongan jabatan, tetapi juga menegaskan komitmen Indonesia dalam memainkan peran strategis dan aktif di mata dunia, sambil memastikan kontinuitas dan efektivitas diplomasi negara tetap terjaga," ungkap Nico.
"Juga turut menjembatani permasalahan status warga negara yang terimbas keputusan imigrasi pemerintahan Trump, termasuk WNI yang bersekolah di AS," pungkasnya.
Adapun Presiden Prabowo Subianto melantik 8 Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (Dubes LBBP) Republik Indonesia (RI) untuk negara sahabat di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/8). Salah satunya adalah Duta Besar untuk Amerika Serikat, Dwisuryo Indroyono Soesilo.
Pengangkatan para Dubes LBBP RI ini tertuang dalam Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 75/P Tahun 2025 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia.
Baca Juga: Insiden Penembakan di Perbatasan Indonesia-Timor Leste, DPR Desak Pemerintah Turun Tangan
Delapan dubes LBBP RI yang dilantik diantaranya, yakni Toferry Primanda Soetikno sebagai Duta Besar untuk Republik Meksiko Serikat, merangkap Belize, Republik El Salvador, dan Republik Guatemala. Dwisuryo Indroyono Soesilo, sebagai Duta Besar untuk Amerika Serikat.
Lalu Andhika Chrisnayudhanto, sebagai Duta Besar untuk Republik Federasi Brasil, dan Abdul Kadir Jailani, sebagai Duta Besar untuk Republik Federal Jerman.
Kemudian, Judha Nugraha sebagai Duta Besar untuk Persatuan Emirat Arab. Imam As’ari sebagai Duta Besar untuk Republik Ekuador, serta Umar Hadi sebagai Duta Besar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Organisasi-Organisasi Internasional lainnya di New York, dan International Seabed Authority.
Terakhir, Sidharto Reza Suryodipuro, sebagai Duta Besar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, World Trade Organization (WTO) dan Oragnisasi-Organisasi Internasional Lainnya di Jenewa. (Ykb)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































