PARLEMEN

DPR Setujui Rencana Anggaran Tahun 2026 Kemhan

Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan.
Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan. (Foto: Dok. kemhan.go.id)

Jakarta, IDM – Komisi I DPR RI menyetujui rencana anggaran pertahanan untuk Tahun Anggaran 2026. Hal itu terungkap dalam rapat kerja tertutup Komisi I DPR beserta Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Donny Ermawan di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (1/9).

Rapat juga diikuti pimpinan tiga matra TNI, yakni Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Maruli Simanjuntak, Kepala Staf TNI AU (KSAU), Marsekal TNI M Tonny Harjono, dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL), Muhammad Ali.

“Pagi hari ini tadi kita melaksanakan rapat kerja antara pemerintah, Kemhan dan TNI, dengan DPR, pada intinya kami menyampaikan rencana anggaran di tahun 2026” ungkap Donny.

Baca Juga: DPR Minta Pemerintah Perkuat Pengawasan di Pos Perbatasan RI-Timor Leste

“Alhamdulilah dari DPR telah menyetujui rencana anggaran kita di tahun 2026,” terang Donny.

Donny mengaku Kemhan mendapatkan anggaran yang cukup pada tahun 2026.

Artinya, kata Donny, Kemhan bisa meningkatkan kemampuan pertahanan hingga bisa membangun kekuatan, meningkatkan menambah jumlah alat peralatan pertahanan.

Baca Juga: Efek Kebijakan Imigrasi Trump, Komisi I DPR: Dubes AS Harus Jembatani Masalah Status WNI

Namun, Donny mengaku pihaknya masih membutuhkan tambahan anggaran untuk optimalisasi kegiatan-kegiatan, ataupun pembangunan-pembangunan sesuai dengan sasaran yang direncanakan.

“Inti dari pembangunan pertahanan ini adalah kita adalah defense supporting economy, jadi kita juga peralatan pertahanan kita ini juga untuk menjamin stabilitas keamanan negara ini, dan tentunya untuk menjamin terlaksananya pembangunan ekonomi, yang akhirnya adalah untuk kemajuan bangsa, untuk kemakmuran rakyat,” tegasnya.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin menyebut pihaknya membutuhkan tambahan anggaran pertahanan sebesar Rp184 triliun untuk Tahun Anggaran 2026. 

Baca Juga: Insiden Penembakan di Perbatasan Indonesia-Timor Leste, DPR Desak Pemerintah Turun Tangan

Pagu indikatif yang ditetapkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dinilai masih kurang untuk memenuhi kebutuhan prioritas pertahanan RI.

"(Butuh) Rp184 triliun," singkat Sjafrie usai mengikuti rapat tertutup dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (9/7).

Di dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2026, Kemenkeu menetapkan pagu indikatif belanja kementerian dan lembaga (K/L) di dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp1.157,77 triliun.

Dari jumlah tersebut, Kementerian Pertahanan ditetapkan mendapat pagu indikatif belanja sebesar Rp167,4 triliun. Jumlah tersebut menempatkan instansi Kemhan berada di posisi kedua dengan pagu terbesar setelah Badan Gizi Nasional (BGN), sebesar Rp217,86 triliun. (ykb)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.