Diserang Israel, Iran Tegaskan Berhak Membela Diri

Jakarta, IDM - Pemerintah Republik Islam Iran menegaskan bahwa pihaknya berhak melakukan tindakan tegas sebagai bentuk membela diri usai diserang Israel sejak 13 Juni lalu.
Serangan Israel terhadap kompleks perumahan, gedung-gedung pemerintah, infrastruktur pertahanan dan ekonomi, transportasi hingga fasilitas nuklir di berbagai kota di Iran, telah menewaskan sejumlah komandan tinggi angkatan bersenjata, ilmuwan, serta wanita dan anak-anak.
Tindakan agresi Pemerintahan Benjamin Netanyahu itu dilakukan saat Republik Islam Iran tengah menjalani proses negosiasi nuklir dan telah memilih jalur diplomasi dan dialog. Dengan demikian, Iran menyatakan negosiasi nuklir tidak dapat dilanjutkan dan Israel harus bertanggung jawab karena telah memulai konflik.
Baca Juga: Sekitar 6.000 Prajurit Korut Tewas dan Terluka Melawan Ukraina
Selain itu, Israel juga telah melanggar sejumlah hukum internasional termasuk prinsip larangan penggunaan kekerasan dalam Pasal 2 (4) Piagam PBB dengan serangan militer yang diklaim sebagai "pertahanan preemtif".
"Republik Islam Iran, berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB, memiliki hak untuk membela diri. Serangan bersenjata dan ilegal oleh rezim Zionis terhadap Republik Islam Iran bukan hanya serangan terhadap Iran, tetapi juga serangan terhadap seluruh sistem PBB dan ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional," kata Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi dalam keterangan pers di kediamannya di Jakarta, Selasa (17/5).
Ia pun menegaskan bahwa Iran akan terus melakukan balasan jika Israel terus menargetkan negaranya. Iran melakukan serangan balasan yang setimpal dan sesuai.
"Banyak yang bertanya kepada saya selaku Duta Besar Republik Islam Iran, apakah Iran akan melanjutkan aksi bela dirinya dan serangannya terhadap rezim Zions? Jawabannya adalah selama Iran diserang dan agresi masih terus berlanjut tentu kami akan melanjutkan bela diri," imbuhnya.
Baca Juga: Komisi I Desak Pemerintah Bentuk Task Force Evakuasi WNI dari Wilayah Rawan Konflik Iran-Israel
Ia pun menyoroti serangan Israel terhadap Gaza. Menurutnya, serangan balasan Iran terhadap Israel juga menjadi momentum guna memberikan 'pelajaran' terhadap rezim Zionis Israel.
"Iran bukan Gaza yang mana rezim Zionis menyebarluaskan kelaparan di tengah masyarakatnya membunuh anak-anak dan kaum ibu-ibu. Iran bukanlah juga negara yang tidak memiliki kekuatan, kami adalah negara yang sangat kuat yang mampu memberikan pembalasan dan bela diri," katanya.
"Ini menjadi momentum yang sangat penting bagi negara-negara yang disalimi oleh rezim Zionis khususnya bangsa Palestina di Jalur Gaza khususnya bangsa Lebanon, dan juga berbagai negara lainnya ketika mereka melihat Iran dengan kekuatannya memberikan pelajaran kepada rezim Zionis mereka senang dan gembira," sambungnya. (bp)
Hankam

Pengerahan 20 Ribu Prajurit TNI AL ke Jakarta: Siaga Ibu Kota dan Latihan di Tanjung Burung
TNI AL mengerahkan sebanyak 20.980 prajurit ke wilayah DKI Jakarta dan daerah penyangga. Pengerahan skala besar ini berfungsi untuk mempertebal pengamanan objek vital sekaligus mempersiapkan rangkaian latihan pendaratan amfibi.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































