Bukan Anggota, Jepang Ikut Latihan Gabungan NATO

Jakarta, IDM - Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) resmi menggelar latihan angkatan udara gabungan sejak kemarin hingga 23 Juni. Menariknya, latihan NATO terbesar dalam sejarah ini melibatkan mitra di Asia yaitu Jepang.
Dilansir dari Kyodo, Selasa (13/6), Jepang akan melibatkan beberapa petinggi militer untuk mengamati latihan gabungan yang dipimpin oleh Jerman tersebut.
Baca Juga: Cina Kirim Kapal Haixun 03 ke Laut Cina Selatan
Air Defender 23 dipartisipasi oleh 10.000 peserta dan 250 pesawat militer dari 25 negara. Amerika Serikat (AS) sendiri mengirimkan 2.000 personel angkatan udara dan sekitar 100 pesawat untuk ambil bagian dalam manuver pelatihan di kawasan Eropa.
"Keikutsertaan Jepang dalam latihan NATO ini bertujuan untuk mendapat lebih banyak kerja sama pertahanan dari negara-negara Eropa," kata Kementrian Pertahanan Jepang.
Baca Juga: Penyebab Jatuhnya Helikopter Militer AS di Suriah Masih Diselidiki
Selama satu tahun terakhir, NATO dan Jepang terus memperkuat kemitraan di wilayah Asia Pasifik untuk menghadapi pengaruh Cina yang terus meningkat. Kedua pihak memandang situasi keamanan di kawasan tersebut saling terkait dengan situasi di Eropa. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































