Badan Intelijen Korsel Sebut 300 Tentara Korut Tewas Melawan Ukraina

Jakarta, IDM – Badan Intelijen Korea Selatan (National Intelligence Service/NIS) mengungkapkan bahwa sekitar 300 tentara Korea Utara (Korut) yang dikirim untuk perang bersama Moskow melawan Ukraina telah tewas.
Baca Juga: Tangkap Dua Tentara Korut, Presiden Ukraina Siap Bertukar Tawanan
Melansir Yonhap, Senin (13/1), NIS mengatakan bahwa penyebab jatuhnya ratusan korban itu karena mereka kurang pemahaman tentang "peperangan modern" melawan Ukraina. Jumlah tentara Korut yang terluka pun mencapai 2.700 orang.
Selain itu, NIS juga menyebut Pemerintahan Kim Jong Un telah menekankan kepada para tentara untuk bunuh diri agar tidak ditangkap hidup-hidup oleh pasukan bersenjata Ukraina.
Baca Juga: Jepang, Filipina dan AS Pererat Kerja Sama Hadapi ‘Perilaku Berbahaya’ Cina
Menanggapi video yang diunggah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melalui platform X, yang memperlihatkan dua tentara Korut yang ditangkap Ukraina di wilayah Kursk, NIS meyakini keduanya berada di bawah kendali Biro Umum Pengintaian (Reconnaissance General Bureau), salah satu badan intelijen Korut. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































