AS Luncurkan Serangan Skala Besar, Iran Bersumpah akan Membalas

Jakarta, IDM – Amerika Serikat (AS) menyatakan telah meluncurkan serangan udara skala besar ke Iran, membalas serangan Teheran terhadap markas militer di Yordania.
Baca Juga: Pakistan Terus Dorong Iran-AS Kembali ke Meja Perundingan
"Komando Pusat AS (CENTCOM) menyerang puluhan target Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Iran, termasuk pusat komando militer, fasilitas rudal dan drone, situs pengawasan dan pertahanan pantai, serta kemampuan maritim," tulis CENTCOM melansir platform X, Kamis (30/7).
Lebih lanjut, CENTCOM menyebut tujuannya untuk terus menekan ancaman yang ditimbulkan Iran dan proksinya terhadap pasukan AS, pelayaran komersial, dan negara-negara Teluk.
Media Iran melaporkan setidaknya tiga warga sipil tewas dalam serangan AS terbaru. Beberapa jam kemudian, Yordania dan Kuwait melaporkan serangan dari arah Iran.
Baca Juga: Indonesia Dorong ASEAN Perkuat Arsitektur Ketahanan Bencana
Usai serangan AS tersebut, IRGC bersumpah akan meluncurkan balasan. Mereka juga bersitegas bahwa Iran berhak mengatur dan menguasai Selat Hormuz karena berada dalam wilayah teritorial.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































