Tidak Libatkan Rusia, Korut Kritik Rencana KTT Perdamaian Ukraina di Swiss

Jakarta, IDM- Pemerintah Korea Utara (Korut) mengkritik Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) perdamaian Ukraina yang akan diselenggarakan di Swiss pada akhir pekan ini, dengan menyebutnya sebagai “pertemuan konspirasi berdalih perdamaian”.
KTT Perdamaian itu dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yang mempertemukan para pejabat dari hampir 90 negara maupun organisasi untuk membahas langkah-langkah mengakhiri perang. Namun, Rusia tidak akan berpartisipasi.
Baca Juga: Khawatir Perang, Jerman akan Bentuk Wajib Militer Model Baru
“Gagasan membahas masalah Ukraina tanpa melibatkan Rusia, pihak kunci dalam konflik tersebut, adalah tidak masuk akal,” tulis pemerintah Korut melalui media nasional KCNA, Jumat (14/6).
“Wajar jika komunitas internasional mengecam pertemuan konspirasi ini, yang diadakan dengan kedok perdamaian namun bertujuan untuk mendorong konflik dan perang,” tambahnya.
Baca Juga: AS dan Ukraina Tandatangani Perjanjian Jangka Panjang, Jadi Jembatan Menuju Keanggotaan NATO
Pernyataan itu muncul di tengah semakin eratnya hubungan antara Rusia dan Korut, yang ditandai dengan kabar terkait rencana kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Pyongyang dalam waktu dekat. (bp)
Hankam

Pengerahan 20 Ribu Prajurit TNI AL ke Jakarta: Siaga Ibu Kota dan Latihan di Tanjung Burung
TNI AL mengerahkan sebanyak 20.980 prajurit ke wilayah DKI Jakarta dan daerah penyangga. Pengerahan skala besar ini berfungsi untuk mempertebal pengamanan objek vital sekaligus mempersiapkan rangkaian latihan pendaratan amfibi.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































