Thailand-Kamboja Terus Berkonflik, Ini Respons Ketua ASEAN

Jakarta, IDM – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim selaku Ketua ASEAN 2025 menyatakan komitmen untuk meredakan konflik Thailand-Kamboja, yang terus berlangsung dan telah menewaskan puluhan orang.
Dalam keterangan tertulis di platform X, Sabtu (13/12), Anwar mengungkapkan telah melakukan perbincangan via telepon dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dan membahas upaya penyelesain konflik Thailand-Kamboja.
Baca Juga: Konflik dengan Thailand, Kamboja Desak PBB Kirim Tim Pencari Fakta
Ia menuturkan, telah menguraikan peran Malaysia dalam mendesak kedua negara untuk menahan diri dan kembali berdialog melalui saluran bilateral dan mekanisme ASEAN.
"Sebagai Ketua ASEAN, Malaysia akan segera menyelenggarakan Pertemuan Khusus Menteri Luar Negeri ASEAN, untuk menilai situasi dan mendukung langkah-langkah de-eskalasi," ujarnya.
Baca Juga: Zelensky Ungkap Keinginan Trump Terkait Rencana Damai dengan Rusia
Malaysia akan terus mendukung upaya untuk meredakan situasi, melindungi warga sipil, dan membantu memulihkan stabilitas regional, yang sejalan dengan nilai-nilai ASEAN. Ia pun mengapresiasi keterlibatan aktif AS. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































