INTERNASIONAL

Setelah 35 Tahun, Misi Perdamaian PBB Berakhir di Sahara Barat

Sekjen PBB António Guterres.
Sekjen PBB António Guterres. (Foto: Dok. UN News)

Jakarta, IDM – Misi perdamaian PBB di wilayah Sahara Barat atau UN Mission for the Referendum in Western Sahara (MINURSO), harus berakhir setelah beroperasi selama 35 tahun.

Berakhirnya MINURSO menimbulkan kekhawatiran mengenai stabilitas di kawasan tersebut. Sahara Barat, yang kaya akan sumber daya mineral, merupakan wilayah gurun di pesisir Atlantik. Wilayah yang pernah dikuasai oleh Spanyol ini kini diperebutkan oleh Maroko dan Front Polisario.

Baca Juga: Kecam Latihan AS-Korsel, Korut Pertegas Komitmen Kekuatan Nuklir

Front Polisario telah berupaya mendirikan negara merdeka di Sahara Barat sejak kolonial Spanyol meninggalkan wilayah tersebut pada tahun 1976. Lalu, misi MINURSO mulai beroperasi sejak gencatan senjata yang ditengahi PBB pada tahun 1991.

Misi MINURSO telah berulang kali diperpanjang. Namun, Dewan Keamanan PBB gagal mencapai kesepakatan untuk memperpanjang mandat tersebut. Dengan demikian, 1 November menandai dimulainya "fase likuidasi", di mana aset-aset yang diangkut kembali ke negara-negara penyumbang pasukan perdamaian.

"MINURSO dibentuk untuk melindungi dan melayani rakyat Sahara Barat, khususnya agar mereka dapat mewujudkan hak mereka yang tidak dapat dicabut untuk menentukan nasib sendiri. Sekjen PBB menegaskan bahwa berakhirnya misi MINURSO tidak menghapus hak-hak yang tidak dapat dicabut tersebut, serta menyerukan kepada semua pihak untuk menghormati dan memajukan hak-hak rakyat Sahara Barat," kata Juru Bicara Sekjen PBB Stéphane Dujarric, melansir UN News, Senin (2/11).

Baca Juga: Suriah Pertimbangkan untuk Gabung Aliansi Makkah

"Sekjen tetap menaruh perhatian terhadap situasi keamanan di seluruh wilayah tersebut serta risiko meningkatnya permusuhan. Beliau menyerukan kepada semua pihak terkait untuk menahan diri semaksimal mungkin dan menghindari tindakan apa pun yang dapat semakin meningkatkan ketegangan atau merusak stabilitas kawasan," pungkasnya.

Ia memberikan penghormatan kepada 20 personel MINURSO yang kehilangan nyawa saat bertugas dalam kurun waktu 35 tahun tersebut. Ia pun menegaskan, meskipun misi MINURSO telah berakhir, PBB tetap siap untuk terus mendukung upaya memajukan dialog dan penyelesaian konflik secara damai.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.