Putin-Xi Mengecam 'Hukum Rimba' dalam Hubungan Internasional

Jakarta, IDM – Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Cina Xi Jinping menentang perlakuan 'hukum Rimba' oleh sejumlah negara dalam menjalankan kepentingan di ranah internasional.
Baca Juga: Bertemu Putin, Presiden Cina Tekankan Pentingnya Dunia Multipolar
Melansir Tass, Rabu (20/5), hal itu diungkapkan dalam Deklarasi 'Emergence of a Multipolar World and a New Type of International Relations,' yang ditandatangani saat pertemuan di Beijing.
"Upaya sejumlah negara untuk secara sepihak mengarahkan urusan global, memaksakan kepentingan mereka pada seluruh dunia dan membatasi kemungkinan pembangunan kedaulatan negara lain dengan semangat era kolonialisme telah gagal," demikian isi deklarasi tersebut.
Kedua negara sepakat bahwa sistem hubungan internasional di abad ke-21 sedang mengalami transformasi tetapi "di sisi lain, situasi global semakin kompleks."
Baca Juga: Pasukan Garuda Monusco Berikan Pelayanan Kesehatan hingga Akses Jalan ke Desa Boga Afrika
"Agenda perdamaian dan pembangunan global menghadapi risiko dan tantangan baru, dan ada bahaya fragmentasi komunitas internasional dan kembalinya hukum rimba," katanya.(bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































