INTERNASIONAL

Pentingnya Peran Perempuan sebagai Negosiator dalam Diplomasi Perdamaian

Marty Natalegawa
Menlu RI tahun 2009 - 2014, Marty Natalegawa saat forum diskusi 'Women, Peace and Security After 25 Years: The Role of Women in Maintaining Peace and Security in Today's World', di Wisma Habibie dan Ainun, Jakarta, Rabu (25/2). (IDM/Bunga Permata)

Jakarta, IDM – Di tengah dinamika geopolitik yang tidak menentu, diplomasi tetap menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas global. Namun, keterlibatan perempuan dalam ruang lingkup diplomasi kerap terabaikan, padahal sifat-sifat yang dibutuhkan negosiator ulung dimiliki perempuan.

Hal ini diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) RI tahun 2009 - 2014, Marty Natalegawa di forum diskusi bertajuk 'Women, Peace and Security After 25 Years: The Role of Women in Maintaining Peace and Security in Today's World', di Wisma Habibie dan Ainun, Jakarta, Rabu (25/2).

Dalam kesempatan itu, ia menyoroti bahwa dunia berada pada titik kritis. Namun tantangan itu bukanlah hal baru. Ketimpangan kekuatan, konflik dan hambatan diplomasi telah lama menjadi realitas sehari-hari.

Baca Juga: Bersitegang dengan Iran, AS Kerahkan Pesawat Tempur F-22 ke Israel

Dalam konteks inilah, pertanyaan penting muncul: apa yang membuat mediasi dan negosiasi berhasil di satu waktu, tetapi gagal di waktu lainnya? Ia memandang kuncinya terletak pada kualitas individu yang terlibat dalam proses tersebut.

Menurutnya, diplomasi bukan sekadar instrumen kebijakan luar negeri, melainkan kekuatan bagi negara yang mungkin tidak memiliki keunggulan militer atau ekonomi. Melalui diplomasi, tercipta medan yang lebih setara.

Ia menuturkan, sifat-sifat yang diperlukan untuk menjadikan diplomasi efektif antara lain keyakinan pada penyelesaian damai, kesabaran, ketangguhan untuk bangkit, kemampuan mendengar secara aktif serta empati dan kemampuan untuk memahami pandangan semua pihak.

Negosiasi dan mediasi juga sering kali menuntut ketenangan dalam keheningan, bahkan dalam situasi penuh ketegangan, hingga para pihak yang berkonflik mampu menemukan titik temu.

"Ketika saya memikirkan semua sifat tersebut dan banyak lagi, saya merasa bahwa sifat-sifat itu paling sering ditemukan pada perempuan," imbuhnya.

Baca Juga: Ketidakpastian Global, Indonesia Desak Perlucutan Senjata sebagai Pilar Perdamaian

Namun, jelasnya, realitas menunjukkan kesenjangan yang signifikan. Data tahun 2024 mencatat bahwa hanya 7 persen negosiator dan 14 persen mediator dalam proses formal adalah perempuan. Angka ini mengindikasikan bahwa komunitas internasional belum sepenuhnya memanfaatkan potensi besar yang dimiliki perempuan dalam diplomasi dan penyelesaian konflik.

Keterlibatan perempuan dalam diplomasi bukan sekadar isu representasi atau kesetaraan, melainkan kebutuhan strategis. "Ini bukan hanya demi kepentingan mereka yang berkecimpung di bidang ini, tetapi demi kepentingan kita semua," ujarnya.

Ketika dunia menghadapi ketidakpastian, pendekatan yang mengedepankan empati, kesabaran, dan membangun kepercayaan menjadi krusial. Sikap inilah yang memperkuat proses perdamaian dan mendorong peluang keberhasilan negosiasi. (bp)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.