Menlu RI: ASEAN Perlu Pendekatan Fleksibel Hadapi Dinamika Global

Jakarta, IDM – Dinamika geopolitik dan geoekonomi yang semakin kompleks perlu diwaspadai dengan memperkuat persatuan ASEAN dan menerapkan pendekatan yang lebih fleksibel.
Hal itu diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono dalam pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN (ASEAN Foreign Ministers’ Meeting/AMM) yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, Sabtu (25/10).
Ia menyoroti bahwa dalam menjalin hubungan eksternal, sudah saatnya ASEAN meninjau kembali kebijakan moratorium terhadap mitra dialog baru. Hal ini juga sejalan dengan meningkatnya minat negara-negara mitra seperti Turki dan dukungan kemitraan dengan Papua Nugini.
Baca Juga: Kirim Delegasi ke Timur Tengah, AS Ingatkan Israel Tak Ganggu Gencatan Senjata Gaza
“ASEAN perlu memiliki pendekatan yang lebih fleksibel dan strategis dalam menjawab perubahan lanskap global,” ujarnya melansir keterangan tertulis Kemlu RI.
Lebih lanjut, menurutnya kemajuan implementasi Five-Point Consensus (5PC) dalam mengambil situasi di Myanmar masih terbatas. Namun, ia mengapresiasi atas upaya berkelanjutan Ketua ASEAN dan Utusan Khusus.
Terkait konflik yang sempat pecah antara Thailand dan Kamboja, ia pun mengapresiasi kepemimpinan Malaysia dalam memfasilitasi kesepakatan gencatan senjata, serta menyambut baik komitmen kedua pihak untuk menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan konsultasi.
Ia juga menyampaikan dukungan Indonesia terhadap proses aksesi Timor-Leste sebagai anggota penuh ASEAN. “Ini bukan akhir perjalanan, tetapi awal dari proses integrasi penuh Timor-Leste di ASEAN,” tegasnya.
Baca Juga: Menlu RI Tegaskan Pentingnya Perkuat ASEAN dalam Hadapi Tantangan Keamanan Regional
Dalam menghadapi hal ini, ia menilai bahwa ulang tahun ke-50 Treaty of Amity and Cooperation (TAC) pada tahun 2026 merupakan momentum penting untuk meneguhkan kembali nilai-nilai dasar ASEAN, yakni perdamaian, stabilitas, dan kerja sama kawasan.
Ia mendorong penguatan peran ASEAN Institute for Peace and Reconciliation (ASEAN-IPR) dalam penelitian dan pengembangan kapasitas guna memastikan TAC tetap relevan menghadapi tantangan baru.
Terakhir, ia menekankan berbagai agenda ASEAN, mulai dari TAC, Myanmar, hubungan eksternal, hingga aksesi Timor-Leste, bertujuan sama, yaitu menegakkan persatuan dan sentralitas ASEAN sebagai jangkar stabilitas kawasan di tengah ketidakpastian global. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































