INTERNASIONAL

Latihan Militer Gabungan Tiongkok-Rusia Uji Strategi Perang dan Kekuatan Senjata PLA

Latihan Militer Gabungan Tiongkok-Rusia Uji Strategi Perang dan Kekuatan Senjata PLA
Photo. Dok: Xinhua

Latgab Zapad/Interaction 2021 di Gurun Gobi meliputi pengujian taktik baru peperangan, sekaligus uji coba pesawat, drone, dan kendaraan lapis baja keluaran terbaru Analis Tiongkok mengatakan, salah satu tujuan latihan perang atau war games ini untuk menangkal kekuatan ekstremis dan teroris di Asia Tengah.

Tiongkok dan Rusia menggelar latihan militer gabungan di barat laut China pekan ini. Pada latgab tersebut, efektivitas strategi perang PLA atau Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok diuji coba. Termasuk persenjataan terbaru yang untuk kali pertama dijajal tentara Rusia.

Sebagaimana dilaporkan The South China Morning Post, 11 Agustus 2021, lebih dari 10.000 tentara diterjunkan di wilayah otonomi Ningxia Hui pada Senin, 9 Agustus 2021, untuk mengikuti latgab selama lima hari.

Panglima tertinggi pasukan Tiongkok Liu Xiaowu kepada CCTV menyatakan, rangkaian kegiatan dalam latgab kali ini meliputi taktik perang inovatif seperti penerjunan pasukan darurat dan senjata berat, serangan jarak jauh oleh bomber J-16, dan pemanfaatan drone.

Liu yang juga Wakil Komandan Western Theatre Western PLA mengungkapkan, 81 persen senjata yang digunakan dalam latgab ini ‘benar-benar baru’.

Photo. Dok: Xinhua

“Termasuk jet pengintai J-20, pesawat pengontrol KJ-400, dan J-16. Drone surveillance dan tempur, juga kendaraan lapis baja yang baru, juga berpartisipasi dalam latihan ini,” jelasnya, sembari menyebut keterlibatan sekitar 200 armada udara, 200 kendaraan lapis baja, dan 100 unit sistem peluncur artileri.

Latgab bertajuk Zapad/Interaction 2021 tersebut digelar di Pangkalan Pelatihan-Taktis Bersama Qingtongxia di Gurun Gobi, NIngxia. Zapad/Interaction ini merupakan event perdana, sekaligus operasi militer gabungan yang pertama selama pandemi dengan Tiongkok sebagai tuan rumah.

“Bagi militer Rusia, ini juga pengalaman pertama mereka menggunakan banyak sekali senjata China dalam latihan gabungan skala besar. Kegiatan ini sudah pasti akan meningkatkan kualitas joint operation dan kapabilitas mereka dalam peperangan, dengan PLA sebagai mitra,” terang Zhou Chenming, peneliti dari Yuan Wang Military Science and Technology Institute di Beijing.

Menurut Zhou, pengerahan besar-besaran generasi baru pesawat J-20 dan Y-20 juga persenjataan mutakhir lainnya termasuk skala latgab ini, juga dimaksudkan untuk menangkal kekuatan ekstremis dan teroris di Asia Tengah.

“Ini menjadi semacam peringatan untuk tidak melewati perbatasan Tiongkok,” tegasnya.

Senada, Han Lin, pejabat senior di departemen staf gabungan Komisi Militer Pusat menyatakan bahwa PLA dan militer Rusia akan menguji taktik tempur dan senjata baru dalam latihan tersebut tidak terkecuali saturated firepower attack dan serangan ‘siluman’ pesawat tak berawak. (issa/wan)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.