Hamas Sebut Pertukaran Tawanan akan Kembali Dilakukan Pada Pekan Ini

Jakarta, IDM – Hamas mengatakan bahwa pihaknya akan membebaskan tawanan perang ke Israel untuk kedua kalinya pada Sabtu (25/1) mendatang.
"Hamas mengonfirmasi bahwa gelombang kedua pertukaran tahanan akan berlangsung pada tanggal yang dijadwalkan, Sabtu, 25 Januari 2025," tulis Hamas melalui Telegram, Selasa (21/1).
Baca Juga: Sekitar 630 Truk Berisi Bantuan Kemanusiaan Telah Memasuki Gaza
Sebagai bagian dari gencatan senjata, Hamas akan membebaskan lebih dari 90 tawanan selama beberapa minggu mendatang. Pertukaran tawanan ini merupakan tahap satu gencatan senjata yang mengakhiri perang Hamas-Israel selama 15 bulan di Gaza.
Sebelumnya, Nahed Al-Fakhouri, kepala kantor media Hamas terkait tawanan, mengatakan bahwa para tawanan Israel akan dibebaskan pada hari Minggu. Namun, Hamas kembali mengeluarkan pernyataan yang mengonfirmasi jadwal pembebasan sandera lebih cepat satu hari.
Baca Juga: Gencatan Senjata, Hamas Bebaskan Tiga Tahanan Israel
Adapun, gencatan senjata mulai berlaku pada Minggu (19/1), dengan Hamas mengembalikan tiga tawanan ke Tel Aviv. Sementara, Israel membebaskan 90 tawanan Palestina. (bp)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































