Di Tengah Ketidakpastian Global, Indonesia Tekankan Pentingnya Multilateralisme

Jakarta, IDM – Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menegaskan bahwa Indonesia akan terus memperkuat multilateralisme di tengah dunia yang semakin terfragmentasi dan penuh ketidakpastian.
Ia menuturkan, politik luar negeri bebas aktif bukan hanya tetap relevan, tetapi justru semakin dibutuhkan dalam menghadapi dinamika geopolitik global. Prinsip ini memberikan ruang bagi Indonesia untuk menentukan sikap secara mandiri, sekaligus tetap aktif berkontribusi bagi perdamaian, stabilitas, dan ketertiban dunia.
Baca Juga: Zelensky Sebut Ukraina Perlu Segera Mulai Produksi Rudal Patriot
“Bebas aktif bukan berarti pasif atau netral. Indonesia tidak akan terseret ke dalam blok-blok eksklusif, tetapi akan terus membangun jembatan dan memperluas ruang strategisnya,” ujar Sugiono dalam acara Jakarta Geopolitical Forum (JGF) ke-10 LEMHANAS, melansir keterangan tertulis Kemlu RI, Jumat (10/7).
Ia juga menggarisbawahi bahwa kelemahan sistem multilateral saat ini tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan prinsip tersebut. Sebaliknya, harus diperbaiki agar lebih representatif, inklusif, adaptif, dan efektif.
“Tata kelola global yang dibangun pada 1945 perlu terus diperbarui agar tetap relevan dalam menghadapi realitas dunia tahun 2045,” imbuhnya.
Dengan demikian, Indonesia akan mempertahankan dan memperbaiki sistem multilateralisme, dengan terus mendorong reformasi tata kelola global, termasuk Dewan Keamanan PBB yang lebih transparan, demokratis, efektif, dan akuntabel. Indonesia juga akan terus menyuarakan kepentingan tersebut melalui berbagai forum.
Baca Juga: AS-Iran Kembali Saling Serang, Perburuk Ketegangan di Kawasan
“Partisipasi di BRICS, peran aktif di G20, kepemimpinan di ASEAN, keterlibatan di D-8 dan dengan Global South, serta proses aksesi menuju OECD, semuanya merupakan bagian dari prinsip yang sama yaitu memperluas ruang strategis diplomasi Indonesia,” jelasnya.
Menlu juga menekankan bahwa diplomasi yang efektif harus ditopang oleh ketahanan nasional yang kuat. “Ketahanan pangan adalah otonomi strategis. Ketahanan energi adalah keamanan nasional. Sumber daya manusia adalah kapasitas geopolitik. Dan teknologi bukan hanya inovasi, tetapi juga kekuatan,” tegasnya.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































