Australia Akan Terus Pantau Laut China Selatan

Jakarta, IDM - Menteri Pertahanan Australia Richard Marles mengatakan bahwa Australia terus menggunakan hak lintasnya melalui Laut China Selatan meskipun mendapatkan pertentangan dari China.
Dilansir dari voanews, Rabu (15/6) Laut China Selatan merupakan salah satu wilayah yang paling disengketakan di dunia. Dimana sebagian besar wilayahnya diklaim oleh China, namun negara-negara di sekitarnya dan Amerika Serikat menentangnya.
Perairan tersebut dilaporkan memiliki cadangan minyak dan gas yang besar dan belum ditemukan, menurut para analis menjadi faktor yang memperburuk sengketa maritim dan kawasan.
Richard bertemu dengan mitranya dari China, Wei Fenghe di Singapura pada Minggu lalu. Hubungan antar kedua negara tersebut sedang bersitegang dalam beberapa tahun terakhir, karena berbagai perselisihan dalam bidang politik ataupun perdagangan termasuk peran Beijing di Laut China Selatan.
"Saya berencana akan membangun kembali hubungan langkah demi langkah dan bersikeras bahwa Australia akan terus mengawasi dari udara kawasan Laut China Selatan, meskipun jet tempur milik China mencegat dan merusak pesawat Angkatan Udara kami dengan serpihan aluminium pada bulan Mei lalu," tutup Richard. (ADT)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.































































































